SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG – Pemerintah Kota Palembang menggelar peringatan perjuangan pertempuran 5 hari 5 malam melawan penjajah di pelataran Lawang Borotan Benteng Kuto Besak (BKB).
Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah, tetapi juga penegasan komitmen pemerintah dalam edukasi generasi muda.
Sekaligus pula mengemai pengembangan kawasan BKB sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya, Sabtu (03/01/2015).
Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang terjadi pada tanggal 1 hingga 5 Januari 1947 merupakan perjuangan sengit antara Tentara Republik Indonesia (TRI) dan rakyat Palembang melawan serangan pasukan Belanda (NICA) yang mencoba kembali menguasai wilayah Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa menegaskan bahwa peringatan pertempuran 5 hari 5 malam memiliki arti penting dan harus terus disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya anak-anak sejak usia dini.
Ratu Dewa berucap syukur, hari ini bisa hadir memperingati perjuangan pertempuran 5 hari 5 malam dari para pendahulu.
“Ini perlu terus kita peringati dan kita sosialisasikan ke masyarakat, terutama kepada anak-anak mulai dari PAUD, SD, hingga SMP, agar mereka memahami arti penting perjuangan para pendahulu yang berkorban nyawa, pikiran, perasaan, waktu, dan harta benda,” ujar Ratu Dewa.
Ia menambahkan bahwa perjuangan tersebut tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga melibatkan aspek politik, ekonomi, dan perdagangan.
Antusiasme masyarakat Palembang terlihat dari pelaksanaan pawai kebangsaan yang mengelilingi kota.
Ternyata antusias masyarakat cukup tinggi. Karena itu negara dan pemerintah harus hadir.
“Peringatan ini sudah masuk dalam kalender event Dinas Pariwisata dan akan terus kita fasilitasi agar benar-benar menjadi agenda penting Pemerintah Kota Palembang,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ratu Dewa juga menyinggung rencana revitalisasi Benteng Kuto Besak.
Dia menyampaikan bahwa pemerintah kota telah melakukan rapat koordinasi dengan Panglima TNI dan tengah mematangkan materi MOU dan kesepahaman. (*)


