Home Palembang Generasi EMAS 2045 Menuju Peradaban Bebas dari Mental Korupsi

Generasi EMAS 2045 Menuju Peradaban Bebas dari Mental Korupsi

75
0

** Seminar Hibrida Nasional Hari Antikorupsi Dunia 2025 Heboh

Swarnanews. Co. Id-Palembang, Jumat,12/12/2025 — Jum’at pagi itu, udara di kawasan kampus UIN Raden Fatah Palembang terasa sedikit berbeda. Di antara deretan pohon yang teduh dan gemerisik angin yang menyelinap di sela-sela bangunan, ratusan mahasiswa terlihat berjalan cepat menuju Rafah Tower, tempat berlangsungnya Hibrida Seminar Nasional Antikorupsi Dunia 2025.

Sejak pukul delapan, aula besar gedung itu mulai dipenuhi aktivitas. Panitia mengenakan seragam biru muda berdiri rapi di pintu masuk, menyambut peserta satu per satu dengan senyum ramah yang mencerminkan semangat acara.

Di sudut ruangan, beberapa mahasiswa tampak sibuk memasang perangkat Zoom, menata tripod kamera, dan menghubungkan kabel-kabel panjang yang bersilangan di lantai. Layar monitor menyala terang menampilkan peserta yang hadir dari luar kota, menandai bahwa acara ini tidak hanya berlangsung di Palembang, tetapi juga di ratusan layar laptop mahasiswa di berbagai daerah. Dunia digital kini menjadi jembatan baru gerakan moral yang terus dicari bentuknya.

Ketika kursi sudah mulai terisi penuh, Akbar Vigo Saputra, Ketua Panitia Pelaksana, naik ke podium. Suaranya terdengar tulus dan sedikit bergetar ketika ia menyampaikan terima kasih kepada para peserta serta mengakui kekurangan panitia dalam mempersiapkan acara.

Ketulusan itu justru menghangatkan suasana dan membuat banyak peserta mengangguk kecil. Seakan mereka mengerti bahwa integritas bukan sekadar materi seminar, tetapi juga keberanian mengakui keterbatasan sejak awal.

Disusul oleh Aldo Putra, Ketua HMPS MPI, yang tampil lebih tegas. “Mahasiswa harus menjadi penjaga moral bangsa,” ujarnya lantang. “Nilai antikorupsi bukan mata kuliah, tetapi prinsip hidup.” Kalimat itu membuat suasana ruangan berubah; peserta terlihat mencatat dengan cepat, sementara beberapa lainnya menatap ke depan dengan sorot mata yang lebih serius.

Suasana kembali hening ketika Dr. Afriantoni, keynote speaker, mengambil alih panggung. Dengan gaya tutur yang lembut namun tajam, ia berbicara mengenai ancaman korupsi dalam konteks bonus demografi.

“Generasi emas hanya bermakna jika emasnya tidak ternoda,” katanya, membuat peserta terdiam sejenak. Kata-kata itu terasa seperti mengetuk nurani—bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas moral generasinya.

Tidak berhenti di situ, rangkaian materi para narasumber lain memperkaya perdebatan. Dr. Teguh Rokhmani, M.M., membuka sesi dengan menguraikan strategi membangun ekosistem pendidikan berbasis integritas. Ia menekankan bahwa sekolah masih sering sibuk memproduksi regulasi, tetapi lupa membangun atmosfer kejujuran.

“Siswa tidak akan percaya pendidikan antikorupsi jika guru tidak menjadi teladan,” ujarnya ketika ditemui wartawan seusai sesi. “Integritas itu terlihat, bukan hanya diajarkan.”

Di panel berikutnya, Ilham Martadinata, M.Pd memberikan peringatan keras terkait ancaman digital. “Korupsi tidak lagi memakai amplop cokelat,” katanya. “Ia tersembunyi di balik manipulasi data, akses sistem, dan celah teknologi.”

Ia menegaskan bahwa kampus harus mulai mengajarkan etika siber sebagai bagian dari pendidikan moral. Tanpa literasi digital yang kuat, kata Ilham, generasi muda justru akan menjadi korban dari bentuk korupsi baru yang lebih canggih.

Sementara itu, kandidat Doktor Dicky Andrian memadukan perspektif hukum dan etika Islam. Ia mengingatkan bahwa korupsi tidak semata pelanggaran hukum, tetapi pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan.

“Korupsi merampas hak orang lain secara sistematis,” tegasnya. Menurutnya, pendidikan antikorupsi harus melibatkan nilai agama, hukum positif, serta budaya lokal untuk menciptakan benteng moral yang lebih kokoh.

Dua pemateri termuda dari unsur mahasiswa, M. Ilham Pratama dan Amar Fauzan, membawa perspektif segar yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Pratama menegaskan bahwa perubahan tidak akan datang jika mahasiswa hanya menjadi penonton. “Kami sering dibilang apatis,” katanya. “Tapi hari ini kita semua membuktikan bahwa generasi muda peduli.” Amar menambahkan bahwa antikorupsi tidak akan berarti apa-apa jika mahasiswa masih melakukan kecurangan kecil. “Kalau kita masih mencontek, memanipulasi laporan, atau menunda amanah kecil, maka seminar seperti ini hanya akan jadi foto di brosur.”

Sesi tanya jawab pun menjadi percakapan paling reflektif. Pertanyaan dari peserta seperti Aldo, Tina Solihatun, Rendi, dan Ahmad Fatriantoni membuka diskusi tentang integritas sekolah, ancaman shadow IT, nilai-nilai dasar antikorupsi, hingga tantangan agar pendidikan karakter tidak berhenti pada simbol.

Pertanyaan-pertanyaan itu mencerminkan kegelisahan generasi muda yang memahami bahwa korupsi adalah ancaman yang semakin cerdas, sistematis, dan masuk ke ruang-ruang personal kehidupan mereka.

Di ruang Zoom, komentar mengalir deras. Peserta dari luar Palembang menulis kesan, tanggapan, dan harapan. Ada yang berkomentar, “Materinya membuka mata saya bahwa korupsi tidak hanya soal uang, tetapi mental.” Yang lain menulis, “Semoga seminar seperti ini tidak berhenti di sini.”

Menjelang penutupan, suasana berubah menjadi hening dan reflektif. Banyak peserta terdiam, merenung, seakan menyadari bahwa perang melawan korupsi bukan hanya tanggung jawab lembaga negara, tetapi keputusan moral yang harus dibuat setiap individu setiap hari.

Saat peserta meninggalkan ruangan, mereka membawa lebih dari sekadar sertifikat dan materi seminar. Mereka pulang membawa rasa tanggung jawab baru: bahwa perubahan besar hanya mungkin lahir dari integritas kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Dari Palembang hari itu, sebuah pesan mengalir kuat—bahwa menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, melainkan soal keberanian moral generasinya.

Dari seminar sederhana yang digelar secara hibrida ini, secercah harapan itu kembali menyala: bahwa bangsa ini masih memiliki anak muda yang ingin membangun Indonesia dengan hati yang bersih dan nurani yang jujur.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here