Home Banyuasin Ironis, 17 Tahun Tempuh 7 Jam Perjalanan ke Sekolah, IGI Sumsel Minta...

Ironis, 17 Tahun Tempuh 7 Jam Perjalanan ke Sekolah, IGI Sumsel Minta Kebijakan BKN Tentang Penempatan Lokasi Tugas Guru Segera Dijalankan

89
0

RESPONSIF: Menghadapi berbagai problem yang menimpa para guru di Provinsi Sumatera Selatan, seperti yang menimpa Eka Supriasih guru yang bertugas di Kabupaten Banyuasin, Ketua IGI Provinsi Sumsel Sapto Abadi, M.Pd menyampaikan aspirasi ini ke pihak berwenang agar dicarikan solusi.

SWARNANEWS.CO.ID, BANYUASIN– Ironis dan memprihatinkan. Kepedihan Eka Supriasih, guru ASN di Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan yang setiap hari harus menghabiskan 6-7 jam di perjalanan untuk mencapai tempat tugas di sekolah. Rutinitas yang menyedihkan itu harus dia jalani selama 17 tahun. Realita itu  menjadi pemantik bagi Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sumsel untuk mendesak realisasi kebijakan penempatan ASN dekat domisili.

Ketua IGI Sumsel, Sapto Abadi, memberikan apresiasi kepada Eka, namun menyayangkan kondisi tersebut masih terjadi di era modern ini. “Pengabdian yang luar biasa, tetapi ini adalah cerminan kegagalan sistem penempatan. Jangan jadikan ini sebagai budaya,” ujarnya.

BERBAHAYA: Kondisi jalan di Kabupaten Banyuasin yang bergelombang membahayakan pengguna jalan termasuk para guru yang bertugas di wilayah tersebut.

Menanggapi wacana Kepala BKN (Badan Kepegawaian Negara) yang mengusung penempatan ASN sesuai domisili, Sapto menilai ini adalah solusi jitu. Ia meminta seluruh jajaran pejabat pembina kepegawaian di pusat dan daerah untuk segera menurunkan kebijakan tersebut ke level teknis.

Sapto menambahkan, waktu tempuh yang panjang berdampak pada kelelahan fisik, berkurangnya waktu bersama keluarga, dan meningkatnya risiko kecelakaan. “Jika guru kelelahan, kualitas pendidikan yang terancam. Dengan bekerja dekat rumah, produktivitas dan fokus mengajar akan meningkat pesat,” jelasnya.

IGI Sumsel menegaskan dukungannya terhadap reformasi birokrasi yang humanis dan mengajak semua pihak mendukung implementasi cepat kebijakan ini. “Kami berharap kisah Ibu Eka menjadi pengingat bagi kita semua agar segera bertindak. Sudah saatnya ASN ditempatkan secara adil dan manusiawi,” pungkas Sapto.

Teks/Foto: Release

Editor: Sarono P Sasmito

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here