Home Pendidikan Rijalush Shalihin, Tangis Haru Warnai Capaian Gelar Doktor,  Tata Kelola Dana ZIS...

Rijalush Shalihin, Tangis Haru Warnai Capaian Gelar Doktor,  Tata Kelola Dana ZIS Lazismu Jadi Prototipe Pemberdayaan Ekonomi Umat Masa Depan

151
0

TEGANG TAPI BERHASIL MERAIH PREDIKAT  SANGAT MEMUASKAN: Menghadapi ujian promosi Doktor ternyata bukan hal sederhana. Meski telah menjadi akademisi atau dosen yang berkiprah bertahun-tahun di hadapan mahasiswa. Ternyata saat menghadapi para penguji masih ada juga rasa tegang yang menyelimuti. Itulah yang dirasakan Promovendus Rijalush Shalihin yang kemudian berhasil meraih meraih gelar doktor dengan predikat Sangat Memuaskan. Tampak promovendus sedang memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan dari para penguji.

SWARNANEWS,CO.ID, PALEMBANG—Ruang sidang Ujian Promosi Doktor Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Selasa (1/9/2026) itu menjadi hening.

“Terimakasih ya Allah atas berbagai anugerah yang Engkau berikan dan tak ternilai. Dari berbagai momen kehidupan yang saya rasakan, capaian untuk menjadi doktor ini bagi saya pengalaman yang sangat mendalam bagi saya,” ujarnya mulai terbata dan terisak saat diminta mengucapkan sekapur sirih sebagai sambutan promovendus.

“Terimakasih kepada orangtua saya, bapak ibu, isteri, para sahabat dan semua hadirin yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu,” tambahnya lagi.

Namun deraian air mata itu masih terus mengalir, sehingga seorang petugas memberikan tisue untuk mengelap air mata haru dan bahagia. Pria tinggi besar dan bercambang lebat itu ternyata berhati lembut.  Untuk menggapai gelar doktor  ini  memang bukan perkara mudah baginya. Dengan berbagai kondisi dan kendala yang dia hadapi,  pria kelahiran 5 Juni 1988 ini berhasil meraih gelar doktor meski jangka waktu yang lama dua tahun delapan bulan.

Penggalan suasana sidang akademik jenjang S3 tersebut menandai keberhasilan akademisi,  yang juga menjadi dosen tetap Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam  Universitas Muhammadiyah Palembang dan berhak menyandang gelar  Dr. Rijalush Shalihin, S.E.I., M.H.I.

Ujian promosi doktor tersebut berlangsung di Ruang Seminar Lantai 3 Gedung A Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang. Dalam ujian tersebut, Rijalush Shalihin mempertahankan disertasinya yang berjudul “Konstruksi Sosial dalam Pengelolaan Dana Zakat, Infaq, dan Sadaqah pada Lazismu Kota Palembang.”

Disertasi tersebut mengangkat isu strategis dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), khususnya bagaimana proses sosial membentuk praktik pengelolaan dana ZIS pada lembaga amil zakat. Kajian ini memiliki relevansi kuat dengan perkembangan ekonomi syariah sekaligus kebutuhan untuk memperkuat tata kelola filantropi Islam agar semakin profesional, transparan, akuntabel, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

 

KOLEGA DAN DUKUNGAN MORAL: Para kolega tempat promovendus mengajar yakni di FAI  UMP tampak Dekan Purmansyah Ariadi, M.Ag dan para wakil dekan, kaprodi dan sekprodi foto bersama. Mereka adalah sumber energi yang menyemangati promovendus untuk menggapai gelar Doktor. Dari kalangan media tampak hadir juga  Pemimpin Redaksi Swarnanews Sarono P Sasmito

Dalam proses penyelesaian disertasinya, Rijalush Shalihin dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Cholidi, M.A., dan Co-Promotor Dr. Muhammad Rusdi, S.E., M.Sc. Sementara itu, tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Duski Ibrahim, M.Ag., Dr. Siti Rochmiyatun, S.H., M.Hum., Dr. Apriyanti, M.Ag., dan Dr. Mohammad Syawaluddin, M.A. Sidang dipimpin oleh Prof. Dr Hamidah didampingi sekretaris Dr Muhammad Thoriq.

Dengan khidmat Prof Hamidah membuka sidang terbuka program doktor. Menurut Hamidah yang dibahas dalam disertasi itu sangat menarik karena Lazismu termasuk instrumen strategis di  Muhammadiyah dalam menggalang dana umat dan untuk kepentingan umat.

Setelah itu Prof Hamidah mepersilahkan kepada Dr Syawaludin MA sebagai penguji pertama. Menurut Syawaluddin Lazismu merupakan Sistem Non Negara dalam pengumpulan dana yang menjadi alternatif ke depan.

Berkaitan dengan data empiris dan data lapangan yang ditulis promovendus cukup lengkap. Memang ada beberapa pemikiran yang meloncat. Penguji ini menanyakan apa implikasi temuan Anda terhadap perekonomian umat. Saat itu penguji juga bertanya penelitian lama sekali 2 tahun 8 bulan. Kenapa ini lama padahal penelitian di lokasinya dekat di Kota Palembang. Mendapatkan pertanyaan itu promovendus mengakui banyak hal yang menjadi penyebab namun itu terpulang pada kondisi promovendus yang banyak kesibukan. Kemudian apa yang membedakan Lazismu dan Lazis lain yang  ada.

Kemudian juga menanyakan  bagaimana mekanisme membaginya. Semua dijawab oleh promovendus dengan menguraikan teknis membaginya.

Kemudian bertindak sebagai penguji kedua Dr. Apriyanti, Mag menyoroti rumusan masalah yang kedua mengapa dana yang terkumpul lebih diprioritaskan kepada warga Muhammadiyah dan komunitasnya. Apakah tidak bertentangan dengan visi misi Muhammadiyah. Promovendus menguraikan mereka yang dibantu oleh yang menghadapi berbagai problem. Prinsipnya memang mendahulukan warga Muhammadiyah tetapi tidak menutup kemungkinan komunitas lain juga memperoleh bantuan. Bahkan ada komunitas lain yang menjadikan Lazismu sebagai mitra untuk menyalurkan dana mereka. Sebagian besar muzakinya warga Muhammadiyah tetapi mustahiknya bukan hanya warga  Muhammadiyah. Menurut pria yang juga menjabat Wakil Dekan II ini Program LAZISMU diprioritaskan pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan warga.

Penguji juga memberikan masukan apa kekurangan LAZISMU dan perbaikan ke depan yang harus dilakukan. Dalam konteks pengumpulan dana ada metode serupa seperti Dompet Duafa pernah dilakukan oleh Harian Republika. Prinsipnya adalah kepercayaan dan transparansi.

Dr. Siti Rachmiatun sebagai penguji ketiga menanyakan tentang konsep Almaun. Aapakah Lazismu di setiap cabang memiliki kriteria dan program yang sama.  Menurut promovendus kebijakan di setiap kota dan cabang sama. Tetapi meski memiliki

konsep yang sama, tetapi tiap  daerah memiliki kearifan lokal tersendiri. Mengapa misalnya  LAZISMU di Jawa lebih maju.

Menurut promovendus mungkin ada perbedaan kultur sehingga Lazismu  bisa lebih berkembang. Misal Lazismu di Yogya memiliki dana yang lebih besar. Sedangkan untuk di Palembang kearifan lokal yang masih terlihat adalah semangat

gotong royong termasuk di  Sumsel secara keseluruhan  masih melekat. Prinsip Taawun saling tolong menolong masih terus berjalan.

Kemudian dilanjutkan penguji berikutnya Prof Dr. Duski Ibrahim yang menguji secara daring dari lokasi lain. Diawali dengan mengucapkan selamat, walaupun agak terlambat akhirnya selesai juga.

“Harus  diakui persyarikatan Muhammadiyah jagonya mengumpulkan dana. Melampaui berbagai ormas yang ada baik NU, Persis. Lantas apa yang anda ingin  promosikan dari konsep Lazismu,” tanyanya dari layar videotron.

Dengan dipromosikan Lazismu bisa dijadikan contoh atau diteladani lazis-lazis  yang lain. Menurut promovendus yang layak dipromosikan adanya  sebuah struktur menjadikan umat percaya untuk mengumpulkan dananya.

Agak unik pertanyaan penguji berikutnya yakni  Prof Dr. Cholidi MA. Tadi sesudah shalat subuh apa yang Anda rasakan? Apa kritik saudara terhadap LAZISMU setelah meneliti. Apa prinsip utama zakat?

Promovendus menjawab prinsipnya adalah untuk mensucikan. Sebab harta yang kita miliki ada bagian orang lain yang harus dibagikan. Sedangkan Prof Cholidi meluruskan Zakat itu prinsip utamanya pemberdayaan. Bagaimana caranya agar bukan hanya Muzaki berdaya tetapi Mustahik yang telah dibantu juga kemudian bangkit dan berdaya.

Cholidi memberikan masukan setiap mengeluarkan pernyataan atau statemen  harus ada argumen. Muhammadiyah sebagai Ormas yang meluncurkan Lazismu pasti memiliki argumen. Termasuk dalam hal mengapa dana yang berhasil dihimpun Lazisme diprioritaskan untuk warga  Muhammadiyah baru kemudian kepada komunitas lain yang juga membutuhkan.

Usai proses ujian tersebut kemudian diskor sebentar. Setelah itu  Sekretaris Sidang Dr M Thoriq   membacakan hasil sidang terbuka. Hasilnya promovendus memperoleh Nilai 84,64 pada sidang tertutup dan nilai 88,55 pada sidang terbuka. Dengan Predikat Sangat Memuaskan.

Keberhasilan tersebut sekaligus menempatkan Dr. Rijalush Shalihin, S.E.I., M.H.I., sebagai doktor ke-142 dari Universitas Muhammadiyah Palembang. Capaian ini menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam memperkuat budaya akademik dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya melalui peningkatan kualifikasi pendidikan para dosen.

Bagi Universitas Muhammadiyah Palembang, bertambahnya dosen bergelar doktor bukan sekadar pencapaian personal, tetapi juga menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran dosen dengan kompetensi akademik yang semakin kuat diharapkan mampu memperkaya proses pembelajaran sekaligus menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Palembang, Dr. Saleh Hidayat, M.Si., menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas keberhasilan Dr. Rijalush Shalihin, S.E.I., M.H.I., menyelesaikan pendidikan doktor.

“Universitas Muhammadiyah Palembang menyampaikan selamat dan apresiasi atas capaian Dr. Rijalush Shalihin, S.E.I., M.H.I., bertambahnya doktor di lingkungan Universitas Muhammadiyah Palembang merupakan kebanggaan sekaligus bagian dari komitmen universitas untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas akademik dosen,” ujarnya.

Menurutnya, disertasi yang mengangkat pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah juga memiliki nilai strategis karena berkaitan erat dengan penguatan ekonomi umat.

“Tema penelitian yang diangkat sangat relevan dengan pengembangan ekonomi syariah dan pemberdayaan masyarakat. Kami berharap hasil penelitian ini tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi penguatan tata kelola zakat dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” lanjutnya.

Capaian Dr. Rijalush Shalihin, S.E.I., M.H.I., juga menjadi motivasi bagi dosen-dosen Universitas Muhammadiyah Palembang lainnya untuk terus meningkatkan kualifikasi akademik dan produktivitas penelitian.

Dengan bertambahnya doktor ke-142 tersebut, Universitas Muhammadiyah Palembang semakin memperkuat posisi sebagai perguruan tinggi yang konsisten membangun ekosistem akademik berbasis pendidikan berkualitas, riset, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat.

Ke depan, capaian tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat reputasi akademik universitas, tetapi juga menghadirkan semakin banyak penelitian yang mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi syariah, filantropi Islam, dan pemberdayaan umat.

 

KELUARGA ENERGI BATIN: Bagi promovendus keberadaan keluarga mulai dari bapak ibu sebagai orangtua, kakak adik, istri dan semua kerabatnya adalah energi bagi yang selalu memompakan semangat baginya untuk menggapai kesuksesan dan menjadi yang terbaik dalam segala hal.

Prof Dr Cholidi MA sebagai promotor kemudian memberikan amanat. Memberikan pujian kepada Doktor Rijalus saat diuji bisa menempatkan diri dalam hal adab keilmuan. Bersikap sangat santun dan tidak asal mendebat. Tetapi setelah menjadi doktor diharapkan ke depan setiap apapun yang menjadi pernyataan harus ada argumen yang bisa dipertanggungjawabkan.

Di situlah letak kredibiltas dan kapasitas keilmuan sebagai seorang doktor yang harus diemban. Namun semuanya harus tetap berlandaskan pada semangat kearifan dan kesantunan.

Foto: DOK UIN Raden Fatah

Teks/Editor: Sarono P Sasmito

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here