BAHAS DMT2: Diabetes Mellitus Tipe2 menjadi ancaman nomor 3 penyakit yang diderita kebanyakan warga Kecamatan Sukarami Palembang. Untuk itu Puskesmas Sukarami membahasnya dengan menghadirkan dua mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsri didampingi para pembimbingnya, para pengurus Pokmas Peduli Kesehatan dan kader posyandu untuk mencari solusi terbaiknya. Tampak mereka berfoto bersama di sela acara.
SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG—Berdasarkan data yang diperoleh di Puskesmas Sukarami Palembang didapat keterangan Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) menjadi penyakit nomor 3 terbanyak yang diidap oleh masyarakat dalam lingkup Puskesmas Sukarami. Sedangkan peringkat 1 penyakit ISPA dan peringkat 2 Hipertensi.
Dari hasil diagnosis komunitas yang telah dilakukan di wilayah Kerja puskesmas Sukarami Palembang, diperoleh bahwa rendahnya capaian pengendalian Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang masih memerlukan perhatian dan penanganan lebih lanjut.
Beberapa kesimpulan itulah yang terungkap dalam paparan Diagnosis Komunitas Identifikasi Akar masalah pengendalian Diabetes Mellitus Tipe 2 tidak terkontrol melalui pendekatan diagnosis komunitas di wilayah kerja Puskesmas Sukarami yang digelar di Puskesmas Sukarami Palembang, Jumat (2/10/2026).
Bertindak sebagai nara sumber dalam kesempatan itu Muhammad Dicky Athallah Putra S,Ked dan Zulaiha Aisyah, S.Ked dari Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Hadir para pembimbing kedua nara sumber yakni Kepala Puskesmas Sukarami Erikson Siregar, SKM, dr Asmarani Ma’mun, M.Kes, dan dr. Dahlia, M.Kes, Ketua Pokmas Peduli Kesehatan Kecamatan Sukarami, Sarono P Sasmito, SPd didampingi bendahara Sriyana dan anggota Pokmas Dian Rusnaini, SH, dr Eny dan dr Dahlia serta para staf Puskesmas lainnya.
Para peserta serius menyimak paparan kedua mahasiswa.
Kedua pemateri, baik Muhammad Dicky Athallah Putra, S.Ked dan Zulaiha Aisyah, S.Ked secara bergantian memaparkan hasil penelitian mereka. Mereka mengemukakan, berdasarkan capaian indikator UKM Puskesmas Sukarami tahun 2025, presentase DM Tipe 2 dalam pengendaliannya hanya mencapai 2 persen dari target 5 persen yang telah ditetapkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya pengendalian DMT2 di wilayah kerja Puskesmas Sukarami masih belum optimal dan masih terdapat sebagian pasien DMT2 yang belum mencapai kondisi gula darah terkendali.
Hasil identifikasi masalah menunjukan bahwa rendahnya pengendalian DMT2 dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Dari aspek individu banyak yang mengidap tapi tidak patuh dalam menjalani pengobatan, keterlibatan keluarga belum maksimal, banyak pasien yang belum patuh dalam pengobatan dan kontrol rutin yang belum optimal, pemantauan gula darah yang belum konsisten serta pemahaman keluarga yang masih kurang dalam mendampingi pasien dalam menjalankan pola hidup sehat dan melakukan pemantauan DMT2 perlu diperkuat.
Di sisi lain juga perlu peningkatan kapasitas kader dan pokmas Peduli Kesehatan dalam penyuluhan DMT2, membenahi metode pemantauan gula darah yang belum optimal. Posyandu pasien ada IKMS namun saat pulang tidak dibawa sehingga tidak ada pengingat. Pasien tak ada pegangan sendiri tentang pencatatan kadar gula darah. Lalu pola makanan tinggi gula
Dan penerapan gaya hidup yang belum konsisten. Dari segi biaya tidak ditemukan masalah. Sedangkan alternatif pemecahan masalah diantaranya dengan mengkreasikan KAGULA atau Kalender Gula Darah. Dengan demikian pasien lebih aware dan terpantau agar pasien ingat cek gula darah.
Ketua Pokmas Peduli Kesehatan Kecamatan Sukarami Palembang. Sarono P Sasmito, SPd memberikan berbagai masukan pada momen tersebut.
Usai keduanya paparan, Ketua Pokmas Peduli Kesehatan Kecamatan Sukarami Sarono P Sasmito memberikan tanggapan. Ternyata permasalahan kesehatan saat ini makin kompleks akan tetapi sebenarnya belum banyak bergeser mengenai jumlah penderitanya. Seperti TBC dan hipertensi sejak dahulu sudah menjadi tantangan menjadi pembunuh nomor wahid. Ternyata hingga saat ini belum teratasi.
“Ironisnya ternyata masalah justru terletak pada pribadi masing-masing belum peduli untuk memelihara kesehatan dengan baik. Kemudian terlihat perilaku yang belum patuh dan disiplin ketika berobat. Di sinilah fungsi dan peran Kelompok masyarakat Peduli kesehatan makin relevan untuk mengedukasi masyarakat,” ujar pria yang juga Pemimpin Redaksi Swarnanews di Palembang ini.
Sarono juga menambahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi DMT2 bukan hanya diidap oleh kalangan dewasa tetapi remaja dan anak-anak yang banyak kena karena pola makan dan minum yang tidak sehat.
Secara fungsi fisiologis tubuh memang memiliki kemampuan untuk merecoveri atas adanya penyakit. Tapi ketika tidak tertanggulangi maka harus obat rutin walaupun tidak bergejala. Dengan Program KAGULA diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat pastrisipasi dan lebih aware terhadap kesehatannya.
Sedangkan apa yang harus dilakukan, menurut pria alumni FKIP Biologi Unsri ini, kita jangan bosan untuk terus mengedukasi masyarakat.
“Kita bantu edukasi masyarakat agar DMT2 tidak menimbulkan masalah serius yang bisa memicu komplikasi dan berakhir dengan kematian. Bisa juga melalui grup wa untuk berkomunikasi sesama pengidap DMT2 agar terkontrol. Menggiatkan kegiatan senam dan kegiatan fisik lain yang menyehatkan bagi masyarakat,” tambahnya.
Dokter Eny.
Kemudian Dokter Eni pada saat itu menambahkan, pada Poli Dewasa dia menemukan banyak sekali pasien DMT2. Perlakuan mereka dalam konsumsi di rumah memang banyak yang belum teratur. Seharusnya kalau ada penderita DMT2 banyak yang masaknya satu kali dan kadar gula dalam masakan tak terkontrol. Beda kalau penderita hipertensi bisa tanpa garam bagi penderita, kemudian masak lagi dikasih garam bagi bukan penderita.
Di samping itu banyak pasien DMT2 kalau DMT2 -nya mendekati normal mereka tidak datang lagi ke puskes. Kita menyarankan silahkan pakai obat alternatif. Sejatinya seharus ketika menghadapi penyakit itu yang dibutuhkan komitmen yang bersangkutan mau sakit atau mau sehat. Kita tak bisa memaksa tiba-tiba kalau tiba-tiba kemudian gula darah 400 tiba-tiba dan sebagainya ada juga pasien dengan kadar gula 385 dan benjolan besar di tubuhnya, ujar Dokter Eni serius.
Padahal dalam bahasa sesungguhnya DMT2 itu bukan penyakit tapi penyandang dan akan disandang sampai liang lahat. Kalau bapak atau ibu terkapar keluarga hanya bisa bilang kasian. Untuk itu program Prolanis ini benar. Misal KAGULA pakai alarm harus agar hayo-hayo kontrol. Kita membutuhkan peran Pokmas Peduli kesehatan karena kalau hanya mengandalkan Nakes waktu terbatas banyak yang harus diurusi.
Dokter Asmarani Ma’mun,M.Kes
Dr Asmarani Ma’mun M.Kes sebagai pembimbing kemudian banyak memberikan masukan kepada kedua pemateri. Baik terkait metode, USG dan lainnya. Kalau ada kaitan kesalahan administrasi dalam mengimput data penderita juga harus dibenahi, katanya.
Dokter Dahlia, M.Kes
Sementara itu dr Dahlia M,Kes mengharapkan bagaimana kader itu bisa hadir terus. Kita perlakukan dan edukasi mereka agar tetap senang atau tidak keberatan konsumsi obat, cari yang menyenangkan. Prolanis ada senam-senamnya. Klinik satu pekan sekali juga dilakukan. Anehnya dalam hal pengobatan justru lansia yang lebih ngerti rajin mungkin takut meninggal dan lain-lain.
Erikson Siregar, SKM
Kemudian Erikson Siregar menambahkan, kendalanya yang bisa kita layani pengklaim-an hanya peserta yang di puskesmas Sukarami. Kalau bukan peserta kita tidak diklaim oleh BPJS. Bukan hanya DMT2 kini yang harus kita atasi, ada TB, saat sedang gencar tracing TB. Gencar ke masyarakat diambil sampel dahaknya, tapi untuk mengajak mereka perlu pancingan duit dan lain-lain padahal untuk kesehatan mereka sendiri. Untuk itu perlu peran kader dan Pokmas Peduli Kesehatan untuk melakukan kunjungan rumah-rumah. Mendata DM di wilayah masing-masing. Tapi ironisnya ketika sudah terdaftar yang bersangkutan malas datang berobat.
Sedangkan Dokter Dahlia menyoroti Kenapa Capaian DMT2 target 2 persen yang terkendali, Ternyata pemahaman pasien baik yang terkontrol maupun yang tidak terkontrol belum memadai. Padahal penting pengelolaan secara mandiri. Aapalagi Puskes pelayanan paling ujung ketika terjadi kasus akhirnya pasien harus ke puskesmas. Untuk itu yang paling penting pemberdayaan pasien harus bisa mengontrol, maupun kontrol untuk minum obat ketika diperlukan. Kita harapkan Pokmas Peduli Kesehatan bisa memberdayakan masyarakaat. Setidaknya kader-kader bisa mendeteksi DM. Apakah pasien berobat tapi tak dikontrol lifestyle-nya. Perlu ditatakelola DM-nya agar terkendali.
Kita tidak harus memaksa mereka ke puskemas. Bisa oleh kader-kader Posyandu dan Pokmas. Penatalaksanaan ke puskes kontrol berobat tapi tata laksana secara mandiri. Sehingga DM terkendali.
Foto: Dok Puskesmas Sukarami
Teks/Editor: Sarono P Sasmito









