Beranda Lubuklinggau Umbar Pantun di Acara Wisuda STAI BS Lubuklinggau, ala Rehal Ikmal

Umbar Pantun di Acara Wisuda STAI BS Lubuklinggau, ala Rehal Ikmal

147
0
Rehal Ikmal, SH, M.Si mewakil Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Tinggi Bumi Silampari Musi Rawas, Drs H Ali Sadikin, M.Si, dalam acara Sidang Terbuka Senat STAI BS Lubuklinggau dengan agenda utama wisuda, Foto: Rehan Akil, Swarnanews.co.id., Ballroom Hotel Grand Zuri Lubuklinggau, Kamis (23/10/2025).

SWARNANEWS.CO.ID, LUBUKLINGGAU – Momentum acara wisuda Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari (STAI BS) Lubuklinggau seperti lazimnya acara-acara resmi di wilayah Sumatera Selatan, pastilah ada ungkapan pantun yang disampaikan oleh pemandu acara maupun para tokoh pengisi acara.

Pantauan awak media swarnanews.co.id yang meliput kegiatan Sidang Terbuka Senat Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari Lubuklinggau dengan agenda utama wisuda lulusan perguruan tinggi swasta tertua di Lubuklinggau, Kamis (23/10/2025).

Menarik memang upacara wisuda kali ini, bukan saja karena dilaksanakan di ballroom sebuah hotel bintang empat merupakan hotel termewah di Kota Lubuklinggau.

Belum lagi ada begitu banyak papan bunga ucapan selamat dan sukses dari pejabat penting daerah maupun pusat, juga pemimpin bisnis dan ketua berbagai organisasi menghiasi bagian halaman depan maupun dalam hotel yang pernah diinapi Presiden RI ke 7, Jokowi.

Rehal Ikmal, SH, M.Si (kedua dari kiri) duduk diapit oleh Wakil Koordinator (Wakor) Kopertais Wilayah VII Prof Arrozak, M.A., dan Wali Kota Lubuklinggau H Rachmad Hidayat, M.I.Kom, Foto: Rehan Akil, Swarnanews.co.id., Ballroom Hotel Grand Zuri Lubuklinggau, Kamis (23/10/2025).

 

Jika dicermati secara detail ucapan papan bunga yang terbilang banyak itu bukan saja ditujukan secara kelembagaan kepada STAI BS Lubuklinggau namun banyak juga ucapan khusus ditujukan kepada mahasiswa S1 STAI BS Lubuklinggau.

Hal itu cukup dimaklumi sebab cukup banyak sosok yang diwisuda hari ini, merupakan para aktivis dan jurnalis lokal di bumi Silampari (red; meliputi Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas Utara atau Muratara).

Pantauan awak media juga mencermati rangkaian acara, ternyata ada bagian ‘aksi podium’ yang dimainkan oleh para pengisi acara. Salah satunya pantun yang diungkapkan oleh Wakil Sekretaris Yayasan Pembina Pendidikan Tinggi Bumi Silampari Musi Rawas (Yayasan PPT BSMR) yang juga sebelumnya menjadi Ketua Panitia Pelaksana Pemilihan (P3K) Ketua STAI BS Lubuklinggau yaitu Rehal Ikmal, SH, M.Si

Pantun yang diungkapkan Rehal Ikmal, SH, M.Si, mencuri perhatian awak media juga para hadirin lantaran dinilai paling lengkap ditujukan kepada beberapa pihak yang hadir atau audiens. Selain itu tentunya sarat makna.

“Pantun pertama ditujukan kepada Pak Wali Kota Lubuklinggau H Rachmad Hidayat meskipun telah lebih awal meninggalkan tempat acara lantaran melanjutkan kegiatan berikutnya yang juga sangat penting,” ungkap Rehal Ikmal.

Beli ikan di pasar Sako, Borong kueni di Pasar 16, Kami sandarkan harapan kepada Pak Wako, Dorong perguruan ini jadi Universitas”.

“Untuk orang tua Mahasiswa/i,” lanjut mantan Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemprov Bengkulu.

Pohon Pinang berbuah Bangka, Di samping Jarak ditanam Lada, Hati senang dan rasa bahagia, Lihat anak-anak ikut wisuda”.

“Pantun berikut untuk Ketua STAI BS Lubuklinggau dan para dosen,” imbuh mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Musi Rawas seraya tersenyum.

Perasan Jeruk dicampur Selasih, Disajikan bersama kue Frozen. Yayasan mengaturkan terima kasih, Atas pengabdian Ketua dan Para Dosen”.

“Dan ini pantun terakhir dalam kesempatan ini, saya tujukan kepada adik-adik Mahasiswa yang diwisuda,” timpal Rehal Ikmal.

Tanam kemumu di tepi selokan, Tanam kepayang di samping durian, Manfaatkan ilmu untuk kebaikan, Selamat berjuang wujudkan impian”.

Sebelumnya Rehal juga mengungkapkan bahwa salah satu kendala kenapa STAI BS Lubuklinggau belum bertransformasi menjadi sebuah institut atau bahkan menjadi universitas.

“Salah satu kendalanya adalah STAI BS Lubuklinggau belum memiliki lahan tanah yang memadai untuk lokasi kampus. Dengan adanya hibah tanah seluas  15 hektar dari pemerintah kota Lubuklinggau sebagaimana diungkapkan oleh Pak Wali Kota Rachmat Hidayat tadi maka insyaallah menjadi pemicu kemajuan serta percepatan transformasi STAI BS Lubuklinggau menjadi perguruan tinggi yang lebih besar dan berkualitas baik. Menjadi sebuah universitas bahkan berubah menjadi perguruan tinggi negeri,” tutup Rehal Ikmal.

Lalu terkait pesan lewat pantun tentunya kita masih ingat dengan pantun viral dari wisudawati Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) pada periode wisuda bulan Juli 2025.

Pantun populer tersebut diungkapkan  wisudawati yang bernama Laura Amandasari Sitindaon, seorang mahasiswi non-muslim yang berhasil menjadi lulusan terbaik Fakultas Hukum. Dan Laura maju ke podium berpidato mewakili teman-temannya sesama wisudawan-wisudawati.

Berikut adalah pantun yang  Laura sampaikan, yang membuatnya viral dan berhadiah beasiswa S2 itu;

Kalau ke kota Kudus, jangan lupa membeli tahu, Meskipun saya Kristen, UMSU tetap the best.

Kalau ke Kota Medan, jangan lupa membeli ulos, Wisuda S1 sudah lulus, ada tidak ya beasiswa S2 yang mulus?”

Pantun jenaka dan berani tersebut diucapkan di hadapan Rektor UMSU dan para pejabat, termasuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Karena pantunnya, Laura akhirnya mendapat beasiswa S2 langsung dari Rektor UMSU, Prof. Dr. Agussani, MAP.

Menyampaikan pesan melalui pantun dapat sangat efektif, tergantung pada tujuan dan konteksnya. Bentuk komunikasi ini memiliki sejumlah keunggulan, terutama untuk pesan yang mengandung nasihat, sindiran halus, atau nilai-nilai moral.

Mengapa pantun efektif?;

Meningkatkan daya ingat; Struktur pantun yang terikat, dengan rima a-b-a-b, membuat pesan lebih mudah diingat oleh pendengar atau pembacanya.

Menyampaikan pesan dengan santun;  Pantun memungkinkan seseorang menyampaikan nasihat atau sindiran dengan cara yang ringan, halus, dan tidak menyinggung, sehingga lebih mudah diterima. Ini sangat penting dalam konteks budaya yang menjunjung tinggi kesopanan.

Membangun hubungan sosial; Sebagai bentuk sastra yang menghibur, pantun dapat mencairkan suasana dan membangun komunikasi yang lebih hangat dan akrab. Ini membantu memperkuat hubungan antarindividu dan memelihara harmoni sosial.

Melestarikan nilai dan tradisi; Pantun sering digunakan sebagai alat pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai luhur, etika, dan ajaran hidup kepada generasi muda.(*)

Teks dan Editor:  Rehanudin Akil, SH.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini