Home Opini Selamat Jalan Yu Sugiyem, Semoga Surgalah Tempat Abadimu (Menyelami Hikmah Kehidupan...

Selamat Jalan Yu Sugiyem, Semoga Surgalah Tempat Abadimu (Menyelami Hikmah Kehidupan Dari Warga Biasa)

53
0

PUNGKASAN HIDUP: Seperti yang dijanjikan Allah setiap yang bernyawa pasti akan sampai pada ajalnya. Itu yang dialami Yu Sugiyem (almarhumah) ayuk misanku. Tampak kerandanya siap diberangkatkan ke pemakaman. Subagio yang juga Kepala Desa Tambahasri (berbaju putih) ikut memikulnya. Dengan doa-doa anak dan cucunya, kerabat dan jiran tetangga anak manusia ini menghadap Illahi Rabbi. Moga selalu tercurah ampunan dan rahman rahim-Nya.  

SWARNANEWS.CO.ID, REJOSARI TUGUMULYO —Semua yang hidup dan bernyawa pasti akan mati. Firman Allah Subhanahu wata’ala yang termaktub dalam Alquran Surat Al-Anbiya 34-35 itu telah berlaku atas Yu Sugiyem ayuk misan kami. Wanita bernama lengkap Sugiyem itu berpulang keharibaan Allah Subhanahu wata’ala di Desa R Rejosari Kecamatan Tugumulyo/Purwodadi  Musi Rawas Sumatera Selatan hari ini, Jumat (3/7/2026) yang penuh berkah dalam usia 74 tahun. Almarhum meninggalkan putrinya yakni  Tuminah, Mustofa, Ginem, Heri dan para cucunya yang tinggal di berbagai desa lainnya.

Dia memang bukan siapa-siapa. Bukan pejabat yang memiliki berbagai fasilitas berlebihan. Bukan pula orang kaya yang berlimpah harta. Lebih dari itu almarhumah bukan pula orang yang terkenal di mana-mana. Dia hanyalah sosok wanita sederhana  dengan kehidupan apa adanya yang tinggal di kaki bukit Rejosari. Sebuah desa yang terletak kurang lebih 30 kilometer dari Lubuklinggau. Tetapi dari sosok yang demikian aku justru banyak memetik hikmah kehidupan.

Dari segi kekerabatan dia adalah keponakan dari almarhum ayahku Sasmito. Aku mengenal lebih dekat dengan sosok almarhumah di tahun-tahun 1970-an saat usia SD. Tempat tinggalku di Desa Q1 Tambahasri Tugumulo sedangkan kediamannya di Desa R Rejosari berjarak kurang lebih 10 km,  membuat kami tidak terlalu sering bisa bersilaturahmi. Momen-momen berkesan dan selalu terulang mungkin hanya saat lebaran Idul Fitri kami kakak beradik selalu berkunjung ke rumah almarhumah dengan naik sepeda.

Dengan penuh senyum dan keramahan dia dan almarhum Mas Ngadiman suaminya,  selalu menerima kami dengan penuh keakraban. Hal yang tidak bisa kami lupakan aku dan Kakakku Subagiyo dan adikku Abuamin, yang saat ini berada di Madiun selalu digendongnya dengan penuh kasih sayang. Lalu kami meminta izin untuk mendaki bukit Rejosari yang memiliki ketinggian kurang lebih  130 meter di atas permukaan laut.

 

PROTOTIPE PEDESAAN: Desa R Rejosari saat ini dengan berbagai pertumbuhan dan perkembangannya tetap mencerminkan suasana pedesaan yang penuh kegotongroyongan.

Saat itulah baru aku tahu, dari ketinggian bukit itu terlihat lalu lalang mobil dan manusia hanya seperti semut kecilnya. Betapa kecilnya manusia dan berbagai benda di bawah sana menjadikanku mengagumi betapa Maha Besar Besar Allah yang menciptakan bukit ini. Bagi kami anak-anak usia SD mendaki bukit saat itu, tentulah bukan hal sederhana. Jalan menanjak menuju puncak penuh liku menjadikan kami terengah-engah dan didera rasa pegal di kaki. Namun karena rasa gembira dan penuh semangat menjadikan kami selalu berhasil mencapai puncak.

Usai melakukan pendakian dan puas memandangi alam sekeliling Kecamatan Tugumulyo dan desa-desa sekitarnya baik Desa O Mangunharjo, M Sitiharjo, G1 Mataram dan desa-desa lainnya kami turun. Ternyata untuk turun pun tetap perlu tenaga karena harus menopang tubuh agar tidak terjerumus. Usai itu sampai di rumah dijamu dengan makanan yang menurut kami sangat nikmat saat itu menyantapnya. Kami selalu menginap di rumahnya yang sangat sederhana. Lantainya masih masih berupa tanah. Saat itu Yu Sugiyem dan Kang Ngadiman tak pernah absen memberikan “sangu” berupa uang dalam jumlah tertentu  kepada kami untuk jajan. Pemberian itu memberikan nuansa penuh kegembiraan.

Dari keluarga itu banyak pelajaran berharga yang kami petik. Satu yang menjadi kunci adalah sikap tawakal dan penghambaan penuh kepada Allah Subhanahu wata’ala. Hal itu dibuktikan meski hidup penuh kesederhanaan, nafkah hidup diperoleh dari bertani baik sawah maupun kebun tetapi hal yang tak pernah almarhumah tinggalkan adalah shalat 5 waktu dengan penuh ketaatan.

Sebagai bentuk solidaritas dan kebersamaan antarmanusia Yu Sugiyem adalah sosok yang ringan tangan dan selalu terbuka untuk membantu siapa pun saja. Suasana kekeluargaan dan sikap gotong royong masih melekat saat tahun 1970-an itu. Sesuatu yang hingga saat ini masih terwarisi warga keturunan Jawa yang merantau dan menjadi trasmigran dari tahun 1930-an.

Hal lain yang juga sulit dilupakan adalah pribadinya yang selalu senyum meski kita tentu tak mengetahui secara pasti kronik hidup yang dialaminya. Semua dihadapi dengan senyum dan wajah cerah. Tak pernah kulihat cemberut atau muka masam menyemburat di wajahnya. Moga hal-hal seperti itu menyiratkan wajah para penghuni surga.

Kini, ketika kehidupan makin sulit dan berbagai problematikanya, belajar kepada sosok almarhumah dengan segala kesederhanaan dan pandangan hidup apa adanya makin relevan. Semoga almarhumah Yu Sugiyem yang saat ini memulai menjalani kehidupan  di alam barzakh disambut dengan penuh rahman dan rahim dari Allah. Sebagai manusia biasa tentu dia tidak lepas dari salah, khilap dan dosa. Moga dengan doa-doa mohon ampun yang dia pohonkan kepada Allah dan doa-doa kita semua diijabah oleh Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Kuasa. Kini saat setiap hari silih berganti keluarga, sahabat dekat dan jauh satu persatu dipanggil pulang oleh-Nya. Moga jika saat itu tiba kepada kita, kita bisa pulang dengan husnul khotimah Aamiin Ya Mujibas Sailin.

Foto: Dok Keluarga

Teks/Editor: Sarono P Sasmito

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here