SEMANGAT BERJIBAKU: Berbagai elemen di Desa Tambahasri berjibaku bahu membahu dalam mengantisi kasus stunting. Salah satu kegiatan dengan digelar Rembug Stunting yang membahas berbagai faktor penanganan stunting agar terus tertanggulangi dari waktu ke waktu.
SWARNANEWS.CO.ID, TUGUMULYO MUSI RAWAS –Berbagai upaya terus dilakukan untuk mengantisipasi kasus stunting salah satunya dengan menggelar Rembug Stunting di Kantor Desa Q1 Tambahasri Tugumulyo Musi Rawas Sumatera Selatan, Kamis (06/08/2026).
Hadir dalam acara tersebut Tim lll , Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Kasi PMD) Yohanita Purnasari SE,MM, Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial (Kasi Kesos) Minarsih,SM, Kepala Unit Pelaksana Teknis Puskesmas L Sidoharjo (KUPT PKML) Dr.Dian Karnita, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Afifah Izzati Oktariyana,S.Si, Sekretaris Desa Udi Winarno beserta staf dan jajarannya, Pendamping Desa Topik Hidayat, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Siswanto , Keterwakilan Perempuan Hosiaroba, Ketua Tim Penggerak PKK Rizky Amalia Soleha, S.Kom, Bidan Desa Uci Widi Astuti,Am.Keb, Kader Pembangunan Manusia (KPM) Jamilah, Ketua Kader Pokader Posyandu Ermi beserta anggota.
Rembuk stunting adalah agenda rutin dilaksanakan setiap tahun yang merupakan forum musyawarah atau pertemuan yang diselenggarakan oleh pemerintah desa bersama berbagai pihak, untuk membahas hasil pendataan stunting, menyepakati langkah – langkah pencegahan dan penanganan stunting serta menetapkan kegiatan yang akan dimasukkan ke dalam anggaran pembangunan dan anggaran desa .
Rembuk stunting juga merupakan salah satu tahapan penting dalam upaya percepatan penurunan angka stunting seperti, peningkatan layanan Posyandu, pemberian makanan tambahan bagi ibu balita, edukasi gizi, pemantauan ibu hamil, perbaikan sanitasi dan penyediaan air minum.
Acara dipandu oleh Hosiaroba, dengan melafazkan basmalah dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Musi Rawas Mantab dirigen Dian Astuti,dan doa yang dikholifai oleh Arif Fathoni.
Kepala Desa Q1 Tambahasari Subagyo melalui Sekdes Udi Winarno mengucapkan selamat datang dan terimakasih kepada peserta rembuk stunting. Mudah-mudahan di acara musyawarah ini kita dapat menemukan kesepakatan, sehingga dapat menjadi dasar pelaksanaan program untuk penurunan angka stunting terkhusus Desa Tambahasri.
Kasi PMD Yohanita Purnasari dalam arahannya mengucapkan terimakasih kepada pemerintah desa yang telah menyelenggarakan kegiatan rembuk stunting. Hal yang dibahas sasarannya, penanganannya sampai dengan pendanaan anggarannya.
Dengan adanya musyawarah ini diharapkan kita semua bisa mencapai mufakat dari permasalahan, jumlah anak stunting dan kasus beserta usulan -usulan.
“Dengan melafazkan “basmalah” acara musyawarah rembuk stunting desa Q1 Tambahasri tahun 2026 resmi saya buka,” ujarnya.
KOMITMEN TERTULIS: Penandatangan Berita Acara Rembug Stunting sebagai dasar dan komitmen tertulis untuk diwujudkan secara nyata.
Penandatanganan berita acara musyawarah rembuk stunting oleh ketua Tim Penggerak PKK, bidan desa dan kader TPK.
Kader Pembangunan Manusia (KPM) Jamilah, dalam paparannya mengemukakan dari data Validasi, Konsolidasi dan Singkronisasi data EHDW, Elsimil dan Verfal, EPPBGM dan Data Desa beserta hasil, jumlah sasaran dan Intervensi TPK/PLKB.
Data yang kami sajikan bukan sekedar angka di atas kertas melainkan potret nyata. Lima kondisi kesehatan yang menjadi sasaran di desa kami mulai dari remaja putri calon pengantin, gizi dan sanitasi, ibu hamil, hingga anak usia dini dan Keluarga Resiko Stunting, ujar warga Desa Tambahasri asal Desa Bejiarum Kertek Wonosobo Jateng ini .
Keluarga Resiko Stunting adalah keluarga yang memiliki faktor -faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya stunting pada anak. Oleh karena itu harus mendapatkan pendampingan pemerintah melalui tenaga kesehatan, kader dan instansi terkait, tambahnya bersemangat
Harapan kami dalam acara musyawarah Rembuk Stunting ini dapat melahirkan komitmen bersama dan menghasilkan usulan kegiatan yang tepat sasaran agar tidak ada lagi anak-anak yang gagal tumbuh akibat stunting, harapnya optimis.
NAKES JUGA BERSINERGI: Tenaga Kesehatan juga sebagai bagian yang penting dalam kolaborasi tersebut. Tetapi keberhasilannya juga tergantung prakarsa dan semangat masyarakat. Harapan Dokter Dian kartika saat menanggapi paparan Kader KPM Jamilah.
Dian Karnita menanggapi apa yang disampaikan oleh Kader KPM Jamilah, mengemukakan, benar dan setuju karena semuanya itu sama dengan rapot. Saya katanya terkhusus jumlah stunting di Desa Tambahasri ini sembilan orang tapi sudah ada penurunan menjadi 4, artinya penanganannya dari pemerintah desa berhasil, itu tak luput dari kerjasama semua lintas sektor di Desa Tambahasri.
Dian Karnita juga memberi apresiasi dengan menyampaikan bahwa kader Tambahasri sudah melaksananakan tugas -tugasnya dengan baik, baik dari penyampaiannya dengan masyarakat dalam menghadapi anak yang dinyatakan stunting maupun pemberian makanan tambahannya. Tak kalah penting penyuluhan-penyuluhan edukasi gizi, perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih.
“Kader posyandu The best,” ujarnya. “Harapan saya program jalan terus, anak-anak sehat untuk mencapai Indonesia Emas , Indonesia Zero Stunting,” tegasnya lagi.
SEMANGAT: Berbagai elemen desa Tambahasri ini kompak dan bersemangat untuk terus mengendalikan angka stunting diharapkan menjadi nol persen.
Di sisi lain Afifah Izzati Oktariyana S.Si juga menyampaikan tentang sinkronisasi, verfal dan elsimil pendataan pasangan usia subur dan sasarannya adalah Keluarga Resiko Stunting (KRS).
Yang termasuk KRS adalah keluarga yang memiliki faktor -faktor yang dapat meningkatkan resiko stunting pada anak, seperti keluarga yang memiliki ibu hamil , keluarga dengan bayi atau balita, terutama usia di bawah dua tahun, keluarga dengan calon pengantin, keluarga yang memiliki ekonomi kurang mampu, keluarga yang memiliki anggota dengan masalah gizi, kurang.
Teks/Foto: Hosiaroba
Editor: Sarono P Sasmito









