Home Opini Meratapi Suara Sunyi Akar Rumput Warga NU Pasca Konbes dan Munas

Meratapi Suara Sunyi Akar Rumput Warga NU Pasca Konbes dan Munas

63
0

Oleh: Junaidi Jamsari | Pengurus PWNU Lampung

SWARNANEWS.CO.ID–Di bilik-bilik santri, di serambi masjid kampung, dibawah tenda dan di sela-sela pengajian Muharram 1448 H, ada satu mantra spiritual yang dijaga dengan amat suci oleh warga Nahdlatul Ulama (NU): Sami’na wa atha’na—kami mendengar dan kami taat. Bagi jutaan warga akar rumput (nahdliyin), kepatuhan kepada keputusan para kiai dan elite organisasi bukan sekadar kepatuhan struktural. Ia adalah sebentuk laku batin, sebuah jalan ngalap berkah yang diyakini akan menyambungkan sanad spiritual mereka hingga ke hadirat Rasulullah SAW.

Namun, pasca-Konbes dan Munas NU 2026 di Ploso kemarin, mantra suci itu kini menyisakan ruang hampa. Ruang sidang pleno yang riuh oleh perdebatan lokasi Muktamar dan wacana pengubahan sistem pemilihan seolah memaksa kita untuk meratapi suara sunyi akar rumput warga NU.

Ada tanya yang membatin tanpa suara di bawah sana: Apakah ketulusan sami’na wa atha’na kami selama ini tengah dirawat sebagai amanah, atau justru sedang ditakar sebagai modal politik untuk melanggengkan kekuasaan?

Warga NU di akar rumput adalah barisan paling setia. Mereka tidak pernah meminta karpet merah, tidak pula memburu jabatan struktural. Ketika PBNU menginstruksikan sebuah gerakan, warga di ranting dan cabang bergerak mandiri, sering kali dengan swadaya dan urunan kantong sendiri. Dasar mereka hanya satu: takzim pada menara gading kepemimpinan.

Sifat sam’an wa tha’atan ini adalah modal rohani terbesar yang dimiliki NU, yang tidak akan ditemukan di organisasi sekuler mana pun. Namun, modal rohani yang suci ini menuntut prasyarat moral yang tak kalah tinggi dari para pemimpinnya. Hubungan antara pemimpin dan pengikut di NU bukanlah transaksi politik jatah suara, melainkan ikatan batin dunia-akhirat.

Sangat disayangkan jika keikhlasan warga di tingkat bawah dibalas dengan tontonan ego kelompok di tingkat atas. Wacana mengubah aturan main organisasi, seperti penghapusan sistem pemilihan langsung pasca-Munas kemarin, secara samar mengirimkan pesan yang kurang teduh.

Seolah-olah, ruang-ruang cabang dan wilayah yang dihuni oleh para kiai kampung mulai dicurigai, lalu hak suaranya ingin dibatasi demi memuluskan jalan satu kelompok untuk terus bertahan di pucuk kepemimpinan. Jika ini yang terjadi, maka sam’an wa tha’atan bukan lagi bermakna kepatuhan spiritual, melainkan telah bergeser menjadi alat penundukan sistemis agar elite di atas bisa melenggang tanpa interupsi.

Terkait bahaya laten dari ambisi kekuasaan ini, pendiri NU, Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, dalam kitab Risalah Ahli Sunnah wal Jama’ah telah memberikan peringatan yang sangat bergetar:

“Di antara tanda-tanda kiamat dan rusaknya tatanan adalah ketika kepemimpinan diserahkan kepada orang yang memburunya, dan ketika urusan umat dijadikan barang dagangan untuk memuaskan hawa nafsu kelompoknya.”

Wejangan kuno ini seakan menemukan gaungnya kembali hari ini. Pemimpin dalam khittah NU sejatinya adalah pelayan (khadim), bukan penguasa (hakim). Ketika orientasi kepemimpinan bergeser dari melayani umat menjadi merawat singgasana, maka keberkahan (barakah) organisasi yang selama ini menjadi payung keteduhan bagi bangsa, perlahan bisa memudar.

Akar rumput NU hari ini tidak sedang ingin memberontak atau melayangkan protes keras. Sifat asli nahdliyin adalah santun dan penuh ewuh pakewuh kepada para pemuka agamanya. Namun, kesantunan itu seharusnya dibaca oleh para elite PBNU sebagai amanah yang amat berat, bukan sebagai kelemahan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan taktis jelang Muktamar ke-35 nanti.

Seperti nasihat mendalam yang sering diingatkan oleh K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus) kepada para pengurus struktur NU:

“Jangan sekali-kali meminta atau berebut jabatan di NU. Sebab, siapa yang ambisius mengejar kekuasaan, Allah akan mencabut pertolongan-Nya, dan ia akan dibiarkan memikul beban berat itu sendirian tanpa berkah.”

Maka dari itu, meratapi suara sunyi akar rumput pasca-Konbes dan Munas ini adalah sebuah seruan jeda bagi kita semua untuk berefleksi. Tulisan ini sejatinya hanya ingin mengetuk pintu hati para pemimpin di atas sana.

Kembalikanlah NU pada khittah spiritualnya. Biarkanlah suara-suara dari surau dan pesantren kecil tetap didengar secara adil, tanpa harus disumbat oleh regulasi yang dipaksakan. Kami, warga nahdliyin, akan selalu siap untuk sami’na wa atha’na, asalkan yang kami dengar adalah suara jernih penuntun umat, bukan suara lantang dari syahwat politik yang sedang berburu selamat. (Editor: Sarono P Sasmito)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here