Drs. Makmur, M.Ag | Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Prov. Lampung
SWARNANEWS.CO.ID –Banyak orang memandang harta sebagai simbol kesuksesan. Semakin banyak kekayaan yang dimiliki, semakin tinggi pula kedudukan seseorang di mata manusia. Karena itu, tidak sedikit orang yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar harta. Namun Islam mengajarkan sesuatu yang berbeda. Harta bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana. Ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika hanya digunakan untuk memuaskan hawa nafsu, tetapi ia juga bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk menolong sesama dan mencari rida Allah.
Salah satu contoh terbaik tentang hal ini adalah kisah sahabat mulia, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, seorang saudagar kaya yang menjadikan hartanya sebagai jalan menuju surga.
Pada masa awal Islam, Madinah pernah dilanda kemarau panjang. Sumur-sumur yang selama ini menjadi sumber kehidupan mulai mengering. Air menjadi barang yang sangat langka. Masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk minum, memasak, berwudhu, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah kondisi yang serba sulit itu, terdapat sebuah sumur yang airnya tetap melimpah dan tidak pernah kering. Sumur itu dikenal dengan nama Sumur Raumah.
Sayangnya, sumur tersebut dimiliki oleh seorang Yahudi yang menjual airnya kepada masyarakat. Setiap orang yang membutuhkan air harus membayar. Di tengah kesulitan yang sedang melanda, keadaan ini tentu sangat memberatkan kaum Muslimin.
Ketika kabar tersebut sampai kepada Rasulullah SAW, beliau merasa prihatin terhadap penderitaan umatnya. Lalu beliau bersabda: “Siapakah yang mau membeli Sumur Raumah lalu menjadikannya untuk kepentingan kaum Muslimin? Baginya surga.” (HR. Muslim)
Sabda itu terdengar sederhana, tetapi bagi hati yang beriman, ia adalah panggilan menuju kemuliaan yang luar biasa. Di antara para sahabat yang mendengarnya, ada satu orang yang langsung tergerak. Ia adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
Tanpa menunda waktu, Utsman segera menemui pemilik sumur tersebut. Dengan penuh kesungguhan ia menawarkan harga yang tinggi agar sumur itu dapat dibeli dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Namun sang pemilik menolak. Baginya, sumur itu adalah sumber keuntungan yang tidak pernah putus. Menjualnya berarti kehilangan pemasukan yang selama ini dinikmatinya.
Akan tetapi, penolakan itu tidak membuat Utsman menyerah. Sebagai seorang pedagang yang sukses, ia memahami bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan jalan yang lurus dan sederhana. Terkadang diperlukan kesabaran, kecerdasan, dan strategi.
Utsman kemudian mengajukan tawaran baru. “Kalau begitu, bagaimana jika aku membeli separuhnya saja?”
Pemilik sumur itu terkejut. “Bagaimana mungkin sumur dibeli separuh?” tanyanya.
Utsman menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan separuh adalah penggunaan secara bergantian. Sehari sumur itu menjadi milik Utsman dan sehari berikutnya menjadi milik pemilik lama.
Tawaran itu terdengar menguntungkan. Sang pemilik berpikir ia akan tetap mendapatkan pemasukan sekaligus memperoleh uang dari penjualan sebagian hak atas sumur tersebut. Akhirnya ia menyetujui usulan Utsman. Kesepakatan pun terjadi.
Sejak saat itu, setiap kali tiba giliran Utsman mengelola sumur tersebut, beliau mengumumkan kepada seluruh penduduk Madinah: “Wahai kaum Muslimin, ambillah air sepuasnya. Bahkan simpanlah untuk kebutuhan dua hari.”
Masyarakat pun berbondong-bondong datang mengambil air. Mereka memenuhi wadah-wadah yang mereka miliki untuk kebutuhan hari itu dan hari berikutnya sekaligus.
Akibatnya, ketika giliran pemilik lama menguasai sumur pada keesokan harinya, hampir tidak ada lagi orang yang datang membeli air. Semua kebutuhan mereka sudah tercukupi.
Hal itu terus berlangsung dari hari ke hari. Lama-kelamaan pemilik sumur mulai merasakan kerugian besar. Sumur yang selama ini menjadi sumber keuntungan kini hampir tidak lagi menghasilkan apa-apa. Ia baru menyadari bahwa Utsman telah menjalankan strategi yang jauh lebih cerdas daripada yang ia bayangkan.
Akhirnya ia kembali menemui Utsman. “Wahai Utsman, aku telah merugi. Belilah bagian sumur yang masih menjadi milikku.”
Utsman tersenyum. Inilah kesempatan yang selama ini ditunggu. Beliau pun membeli seluruh sisa kepemilikan sumur tersebut hingga akhirnya Sumur Raumah sepenuhnya menjadi miliknya.
Namun yang lebih menakjubkan adalah apa yang terjadi setelah itu. Utsman tidak menjadikan sumur tersebut sebagai ladang bisnis baru. Ia tidak menaikkan harga air. Ia tidak mencari keuntungan dari kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, beliau mewakafkan sumur itu untuk umat.
Sejak saat itu, siapa pun boleh mengambil air dari sumur tersebut secara gratis. Kaya maupun miskin. Muslim maupun non-Muslim. Bahkan pemilik lama yang menjual sumur itu pun tetap dapat memanfaatkannya tanpa harus membayar.
Di sinilah kita melihat betapa indahnya perpaduan antara kecerdasan dan kedermawanan. Utsman tidak hanya memiliki hati yang lembut, tetapi juga pikiran yang cemerlang. Ia tidak memaksakan kehendak, tidak pula menggunakan kekuasaan atau tekanan. Ia menyelesaikan persoalan dengan strategi yang elegan dan penuh hikmah.
Kisah ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak cukup hanya memiliki niat baik. Niat baik harus disertai dengan kecerdasan dalam bertindak. Kebaikan yang dilakukan dengan strategi yang tepat akan menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar.
Di sisi lain, kisah ini juga memperlihatkan bagaimana harta dapat menjadi sarana meraih kemuliaan di sisi Allah. Banyak orang menganggap kekayaan sebagai penghalang menuju akhirat. Padahal yang menentukan bukanlah banyak atau sedikitnya harta, melainkan bagaimana harta itu digunakan.
Allah SWT berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”(QS. Ali Imran: 92)
Utsman memahami betul makna ayat ini. Ia tidak mengeluarkan sesuatu yang tidak berharga. Ia mengorbankan harta yang sangat besar demi menghilangkan kesulitan umat. Harta yang berada di tangannya tidak menjadikannya sombong, tetapi justru semakin mendekatkannya kepada Allah.
Apa yang dilakukan Utsman juga menunjukkan bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang tersimpan di dalam rekening atau lemari penyimpanan. Kekayaan sejati adalah apa yang mampu kita ubah menjadi amal yang terus mengalir pahalanya. Sumur itu mungkin telah berusia lebih dari empat belas abad, tetapi pahala wakafnya tetap mengalir hingga hari ini.
Sebaliknya, kisah ini menjadi pelajaran tentang bahaya keserakahan. Pemilik sumur hanya melihat air sebagai sumber keuntungan. Ia memanfaatkan kebutuhan masyarakat untuk memperbesar penghasilannya. Akibatnya, ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada keuntungan materi, yaitu keberkahan.
Sayangnya, perilaku seperti itu masih sering kita temukan pada zaman sekarang. Ketika terjadi kelangkaan barang, ada orang yang justru menimbunnya agar harga naik. Ketika masyarakat sedang kesulitan, ada pihak yang memanfaatkan keadaan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Ketika kebutuhan pokok meningkat, sebagian pedagang bermain curang dengan timbangan, kualitas, atau harga. Bahkan tidak sedikit pelaku usaha yang menjadikan penderitaan masyarakat sebagai peluang untuk memperkaya diri.
Semangat yang diajarkan Utsman justru sebaliknya. Beliau mengajarkan bahwa keuntungan tidak boleh mengalahkan kemanusiaan. Bisnis tidak boleh kehilangan nurani. Harta tidak boleh menjadikan seseorang lupa bahwa di dalam setiap kekayaan terdapat hak orang lain yang membutuhkan.
Di tengah dunia yang semakin materialistis, kisah Utsman bin Affan mengingatkan kita bahwa ukuran kesuksesan bukanlah seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan melalui harta tersebut. Sebab pada akhirnya, harta yang kita simpan akan kita tinggalkan, sedangkan harta yang kita infakkan di jalan Allah akan menemani kita hingga kehidupan yang kekal.
Hari ini mungkin kita tidak memiliki Sumur Raumah untuk dibeli. Namun kesempatan menjadikan harta sebagai jalan menuju surga tetap terbuka lebar. Ada masjid yang perlu dibangun, ada pesantren yang perlu dibantu, ada anak yatim yang perlu disantuni, ada fakir miskin yang perlu diperhatikan, dan ada berbagai amal jariyah yang menunggu uluran tangan kita.
Pertanyaannya bukanlah seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa banyak harta itu mendekatkan kita kepada Allah.
Karena pada akhirnya, yang akan mengantarkan seseorang ke surga bukanlah jumlah hartanya, melainkan keberkahan dari harta yang ia gunakan di jalan-Nya.
Utsman bin Affan telah membuktikan bahwa ketika harta berada di tangan orang-orang saleh, ia tidak hanya menjadi alat mencari keuntungan dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju surga. Wallahu’alam. (Editor: Sarono P Sasmito)





