Home Pendidikan Saat Hijau Berubah Jadi Cokelat: Panggilan Darurat di Jalan Palembang-Indralaya

Saat Hijau Berubah Jadi Cokelat: Panggilan Darurat di Jalan Palembang-Indralaya

51
0

                                                     Oleh Sudarta

(Akademisi Prodi Manajemen UMPalembang dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ogan Ilir).

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG –Pagi pagi saya meluncur dari rumah di Ogan Ilir menuju kampus Universitas Muhammadiyah Palembang. Jalan yang biasa saya lalui ini selalu menyuguhkan pemandangan hijau yang menenangkan. Namun begitu melewati Kilometer 27, pandangan saya berubah seketika. Hijau yang biasanya menyapa mata, kini berwarna cokelat gelap, hangus terbakar. Seakan-akan alam sedang memakai “semir tahunan”—tanda musim kemarau resmi datang menyapa.

Pemandangan yang menyedihkan itu ternyata berulang setiap tahun. Di kiri dan kanan jalan, lahan rawa yang kering tampak gosong dan tandus. Asap tipis masih terlihat mengepul di beberapa titik. Ini bukan kejadian tak terduga. Ini pola yang sama, berulang terus-menerus seolah menjadi rutinitas yang tak terhindarkan. Setiap musim kemarau tiba, lahan terbakar, asap mengepul, dan kita semua kembali mengeluh.

Kita semua tahu akar masalahnya. Kebakaran lahan dan kebun sepanjang jalur Palembang–Indralaya ini antara lain terjadi karena kebiasaan membakar lahan untuk membuka atau membersihkan lahan. Anggapannya sederhana: membakar lebih cepat dan lebih murah. Tapi dampaknya? Biaya yang harus dibayar jauh lebih mahal. Udara jadi berasap, paru-paru terganggu, pemandangan rusak, tanah kehilangan kesuburan, dan kerugian ekonomi yang nilainya tak sedikit.

Pemerintah lewat BPBD dan Pemadam Kebakaran tentu sudah bekerja keras memadamkan api yang berkobar. Tapi ini seperti berjuang tanpa henti memadamkan api yang terus dinyalakan ulang. Upaya pemadaman saja tidak akan pernah selesai jika sumber apinya tidak ditutup. Sesungguhnya, pencegahan adalah kunci utama yang selama ini belum sepenuhnya berjalan maksimal.

Lantas, apa yang sebenarnya bisa kita lakukan?

GERSANG: Efek kebakaran lahan selain menimbulkan kegersangan juga menjadikan plasma nutfah sebagai keseimbangan ekologi akan banyak musnah. Belum lagi aneka satwa dan mikrobia sebagai penyubur tanah juga akan lenyap. Ini sangat merugikan bagi kehidupan.

Pertama, berhentilah membakar lahan atau membersihkan lahan dengan membakar. Membakar lahan bukan solusi cerdas. Sekarang sudah banyak cara lain untuk membersihkan lahan tanpa membakar, misalnya dengan sistem tebas dan tumpuk, pemanfaatan sisa tanaman menjadi kompos, atau penggunaan alat bantu mekanis sederhana. Sedikit lebih lama memang, tapi jauh lebih aman dan tanah tetap subur.

Kedua, pengawasan dan sosialisasi harus lebih dekat ke masyarakat. Banyak petani dan pemilik lahan sebenarnya belum paham sepenuhnya tentang bahaya kebakaran lahan dan sanksi hukum yang berlaku. Perlu pendekatan yang lebih ramah namun tegas, agar mereka sadar bahwa membakar hutan dan lahan itu merugikan semua orang, termasuk diri mereka sendiri.

Ketiga, kita semua harus ikut peduli. Jika melihat ada yang membakar lahan atau melihat api mulai merambat, jangan diam saja. Segera laporkan ke pihak berwajib. Jangan menunggu api membesar dan tak terkendali. Satu laporan tepat waktu bisa menyelamatkan hektare-an lahan dan melindungi udara yang kita hirup bersama.

Kita tidak ingin setiap musim kemarau datang, pemandangan hijau di sepanjang jalan Palembang–Indralaya hilang berganti warna hitam hangus. Kita tidak ingin setiap tahun kembali membicarakan hal yang sama tanpa perubahan nyata. Mari kita ubah pola itu. Cegah sejak dini, jangan bakar lahan, dan jaga lingkungan kita. Karena udara bersih dan tanah yang subur bukan hanya milik kita, tapi juga warisan bagi generasi yang akan datang. (Editor: Sarono P Sasmito)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here