Home Palembang Agus Cik Meninggal Mendadak “Memberi” Pelajaran Penting Bagi Kita: Ajal Tak...

Agus Cik Meninggal Mendadak “Memberi” Pelajaran Penting Bagi Kita: Ajal Tak Menunggu Tobat, Tobat Tak Menunggu Ajal

60
0

SARAT MAKNA: Kehidupan dan kematian sesama muslim muslimah itu indah. Saat berpulang menghadap Sang Khalik saudara seiman dan seagama mengantarkan ke pemakaman dengan penuh doa-doa. Hal itulah yang terlihat pada prosesi pemakaman almarhum Agus Cik di Pemakaman Umum Jalan Naskah Km 7 Palembang, Minggu (23/8/2026).

SWARNANEWS.CO.ID , PALEMBANG -Seperti yang dijanjikan Allah setiap yang bernyawa pasti akan mati atau  sampai pada ajalnya. Manusia tak pernah tahu di mana dan kapan peristiwa itu  akan terjadi. Kondisi seperti itulah yang dialami Agus Cik. Pria yang tinggal di jalan Naskah Km 7 Kelurahan Sukarami Kecamatan Sukarami Palembang ini, Minggu (23/8/2026) kurang lebih pukul 10.45 menemui ajalnya dan berpulang keharibaan Allah Subhanahu wata’ala saat sedang tertidur istirahat. Padahal beberapa saat sebelumnya almarhum baru saja kulu kilir untuk suatu keperluan. Putra keempat dari Dung Cik AR ini meninggalkan dunia yang fana ini dalam usia 58 tahun.

Tak pelak kabar mengejutkan itu membuat warga di RT 34 RW 12 ini gempar. Tak sedikit yang menyangsikan kabar duka tersebut. Akan tetapi setelah menyaksikan kebenaran informasi tersebut banyak warga menjadi tercenung: “Kalau Ajal sudah sampai tak bisa dimajukan atau dimundurkan barang sedetikpun,” gumam mereka.

Secara personal almarhum memang terkatagori warga biasa. Bukan pejabat yang memiliki berbagai fasilitas berlebihan. Bukan pula orang kaya yang berlimpah harta. Lebih dari itu almarhum bukan pula orang yang terkenal di mana-mana. Dia sosok pria sederhana yang menapaki  kehidupan apa adanya dan selalu berjibaku dalam menghidupi keluarganya. Tetapi seyogyanya dari sosok demikianlah kita layak belajar untuk memetik hikmah kehidupan.

Tak bisa dipungkiri menjelang waktu pemakaman jerit histeris istri dan anak-anak almarhum tak bisa dihindarkan. Bahkan Anis putri sulung almarhum sempat pingsan. Tetapi dengan kekompakan dan pendekatan manusiawi, baik Neti (istri almarhum)  putri sulungnya Anis dan adik-adiknya yakni Ridho, Fadhel dan Icha bisa menguasai perasaan. Sehingga persiapan pemakaman segera dilakukan. Baik mulai dari memandikan, mengkafani dan mensolatkan di Masjid Nurul Islam. Dengan tawadhu, Ridho sang putra keduanya tampil sebagai imam. Hal yang sangat mengharukan dan sebagai ukhuwah Islamiyah yang masih terbangun dengan baik jamaah yang menshalatkan memenuhi masjid hingga lantai dua.

Kondisi serupa bukan hanya terjadi waktu menshalatkan jenazah. Saat mengantarkan ke pemakaman di Jalan naskah juga warga penuh sesak. Warga bahu membahu menurunkan jenazah ke liang lahat. Kemudian dipandu Ketua RW 12 Sarono prosesi pemakaman dilakukan. Doa kemudian dipimpin oleh Ustadz Hendri dan diaminkan oleh semua penghadir.

 

MOGA DOA DIIJABAH: Kerabat, jiran tetangga, sahabat baik di SMKN 4 maupun teman-teman masa kecil mengantarkan almarhum ke pemakaman dan mengirimkan doa-doa kepada almarhum.

Edwardo (61) kakak nomor 3 almarhum mewakili keluarga saat dibincangi Swarnanews dengan haru mengemukakan: “Pelajaran penting yang kami rasakan atas meninggalnya Agus. Ajal tidak menunggu tobat dan seharusnya tobat tidak menunggu ajal datang,” ujarnya serius.

Menurut Edwar dia dilahirkan dari keluarga yang mendidik anak-anak dengan keras. Memberikan berbagai pelajaran hidup dan kebiasaan di rumah agar mandiri. Oleh karena itu sebagai 5 bersaudara mulai dari putri sulung Desy Susilawati (almarhumah),Raden Bastari, Edwardo, Agus Cik dan Desnuwardana yang juga berprofesi sebagai anggota TNI benar-benar berusaha hidup mandiri sejak kecil di kawasan Silaberanti.

Pelajaran penting yang kami petik. Kita harus bertawakal dan penghambaan penuh kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebab saat Allah menghendaki kita dipanggil “pulang” kepadanya siap tak siap harus pulang.

Di sisi lain, Ridho yang sempat jadi imam atas shalat jenazah ayahnya mengemukakan, satu hal yang menurut kami harus jadi teladan kami sikap almarhum adalah kebiasaan bersedekah. “Rutin saat mendapatkan rezeki almarhum selalu bersedekah hingga 20-30 persen rezekinya kepada siapa pun,” ujarnya masih raut berduka.

Wartawan Swarnanews yang juga warga jalan Naskah KM 7 Palembang ini menyaksikan dalam keseharian almarhum selalu hadir dalam kegiatan warga. Ringan tangan untuk membantu berbagai kegiatan termasuk saat Lomba 17 Agustusan yang lalu.

Kini sahabat-sahabat dekat almarhum baik Pak H Sulaiman, Om Daniel, Candra Gunawan, Pak Dalimin, Ketua RW 12 Sarono, Ustad Hendri, Ustadz Efran dan semua warga sangat merasa kehilangan sosoknya.

Dengan doa-doa anak dan cucunya, kerabat dan jiran tetangga kita semua. Anak manusia ini menghadap Illahi Rabbi. Moga selalu tercurah ampunan dan rahman rahim-Nya di alam barzakh sana. Aamiin Ya Mujibas Sailin.

Teks/Foto/Editor: Sarono P Sasmito

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here