SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG—Menghadapi realita masih tingginya angka Stunting di Kota Palembang,
Dinas Pemberadayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PBPPA) Kota Palembang mennggelar Seminar tentang Stunting yang diikuti 178 kader perwakilan dari setiap kelurahan yang ada di Kota Palembang di Gedung Serba Guna Kecamatan Ilir Barat I Bukit Besar Palembang, Selasa (6/10/2026).
Di antara utusan dari seluruh kecamatan yang ada di Palembang, Kecamatan Sukarami mengutus Susri Maryani, Eka Fitrian Nova Lisna yang juga pengurus Kelompok Masyarakat (Pokmas) Peduli Kesehatan Kecamatan Sukarami, Lena Erly, Wanti Triyani, Rita Fauziah, Sariah dan Megawati.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ir. Dewi Isnani. M.Si. Hadir juga saat itu Camat Ilir Barat 1 Alexander, S.IP., M.Si. Sedangkan bertindak sebagai Narasumber Heri Cahyono SKM dari Dinkes Kota Palembang, Ketua Panitia Penyelenggara Kepala Dinas PPPA Ir. Dewi isnani. M.Si dibantu Kepala Bidang Perlindungan Perempuan Dra Ida Rodhiyani. M.Si.
Acara dipandu oleh Bayu dari kantor Kecamatan Ilir Barat I dimulai dengan membaca basmalah. Sedangkan maksud dan tujuan kegiatan ini meningkatkan peran daya pemberdayaan perempuan dan anak dalam pencegahan stunting. Sedangkan tema: “Perempuan berdaya keluarga sehat mencegah stunting”.
Kepala Dinas pemberdayaan perempuan diwakili oleh sekretaris Dinas PPPA Reni Indah Sari pada sambutannya mengemukakan, stunting merupakan permasalahkan gizi kronis di negara Indonesia. Gizi kronis sejak anak dalam kandungan atau 1000 hari pertama kehidupan . Tinggi badan yang tidak sesuai umur, mempengaruhi otak dan perkembangan. Sedangkan perempuan memiliki peran strategis dalam memenuhi gizi keluarga dalam keterlibatan posyandu, dasawisma PKK dan kegiatan lainnya. Perempuan perlu peran aktif dalam gizi keluarga.
Sedangkan penjelasan materi peran perempuan dalam pencegahan stunting di Kota Palembang oleh Kepala Dinas PPPA Kota Palembang Ir. Dewi isnani. M.SI
Dia mengemukakan, perempuan dan pola asuh meliputi ASAH yakni memberikan stimulasi yang sesuai dengan usia anak untuk pertumbuhan anak; ASIH memberikan kasih sayang rasa aman dan komunikasi yang positif dan ASUH memberikan dan memenuhi kebutuhan gizi anak.
Di sisi lain peran ayah sebagai kepala rumah tangga dalam mencegah stunting dengan dengan cara: menemani pemeriksaan kehamilan; mendukung kebutuhan gizi ibu dan anak; mendukung keberhasilan pemberian ASI; ikut mengasuh dan memberi stimulasi kepada anak; membawa anak ke posyandu; memberikan lingkungan dan tempat tinggal yang baik; dan ikut bagian mengambil keputusan dalam pendidikan pola asuh anak.
Pencegahan stunting dan pemberdayaan perempuan sangat berkaitan erat. Pencegahan stunting juga membutuhkan perempuan yang berpendidikan sehingga mampu dan dapat memperoleh serta memahami infomasi kesehatan. Berdaya secara ekonomi yakni mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Kemudian sehat yakni memiliki akses terhadap kesehatan yang berkualitas dan terlibat dalam pengambilan keputusan.
Di sisi lain Peran pemerintah dalam Pencegahan Stunting membutuhkan pendekatan lintas sektor. Dari perspektif pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kontribusi dapat diperkuat melalui advokasi, sosialisasi dan edukasi:
Yakni pencegahan perkawinan anak usia dini; peningkatan ketahanan dan kualitas keluarga; perlindungan anak dan perempuan dari kekerasan; edukasi mengenai kesehatan reproduksi; parenting pola asuh; kolaborasi dengan perangkat daerah dan masyarakat. Sedangkan kolaborasinya Pemerintah berbentuk kebijakan, pelayanan dan pendampingan; Tenaga kesehatan : pemeriksaan, edukasi , intervensi dan pemantauan; Keluarga : Gizi, kesehatan, pengasuhan dan perlindungan; Ayah dan Ibu : berbagi peran dalam pengambilan keputusan bersama; Kader dan masyarakat: edukasi dan deteksi dini dan pendampingan
Kemudian dilanjutkan materi oleh Heri Cahyono. S.KM. Topik bahasan meliputi Dasar hukum penanggulangan stunting,
Pengertian stunting, Faktor penyebab stunting, Gejala STUNTING, Penanggulangan stunting dan peran perempuan dalam pencegahan stunting.
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama akibat pemberian makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Ditandai dengan panjang dan tingi badan lebih pendek dari usia yang seharusnya.
Sedangkan faktor penyebab stunting: infeksi pencernaan seperti diare atau cacingan pada usia 0-2 tahun; sanitasi atau kebersihan lingkungan yang buruk; asupan nutrisi dan kesehatan buruk selama kehamilan; kehamilan usia remaja; Janin dalam kandungan akan berebut nutrisi Dengan ibu yang masih masa pertumbuhan; jarak kehamilan terlalu dekat dan kurang asupan ASI selama bayi.
Gejala stunting wajah nampak lebih muda dari anak usianya; usai 8-10 tahun akan menjadi lebih pendiam dan tidak mau melakukan kontak mata dengan orang sekitar; alami performa yang buruk pada kemampuan fokus dan memori belajar; pertumbuhan melambat seperti gigi dan perkembangan tubuh anak akan terhambat seperti telat menstruasi jika perempuan.
Stunting memiliki dampak yang buruk yakni jangka pendek meningkatnya kejadian kematian dan kesakitan; perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal dan menjadi beban peningkatan biaya kesehatan. Sedangkan jangka panjang postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa; meningkatnya resiko obesitas; kesehatan reproduksi menurun; performa di sekolah dan peningkatan belajar menurun serta kapasitas dan produktivitas kerja tidak optimal.
Penanggulangannya meliputi pola asuh. Stunting juga dipengaruhi aspek prilaku terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makanan pada bayi dan balita. Pola makan, masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi. Air bersih dan sanitasi; sanitasi dan akses air bersih sangat rendah. Anak anak terancam berisiko pada panyakit infeksi.
Stunting bukan sekadar persoalan anak yang bertubuh pendek. Stunting berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, infeksi berulang, serta berbagai faktor lain yang saling berkaitan.
Dalam pencegahan stunting, perempuan memiliki peran yang sangat penting, tetapi tanggung jawab ini bukan hanya milik perempuan. Keluarga, pasangan, masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah juga memiliki peran yang sama-sama penting.
Peran perempuan dapat dimulai sejak masa remaja. Remaja putri perlu mendapatkan gizi yang cukup, menjaga kesehatan, mencegah anemia, serta memiliki pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan gizi. Kondisi kesehatan seorang perempuan sebelum hamil akan ikut memengaruhi kesiapan kehamilannya.
Ketika memasuki masa kehamilan, ibu membutuhkan makanan bergizi seimbang, pemeriksaan kehamilan secara rutin, serta dukungan dari keluarga. Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI yang bergizi dan sesuai kebutuhan anak, menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembangnya.
Namun, kita perlu menghindari anggapan bahwa pencegahan stunting adalah “tugas ibu saja.” Ayah dapat berperan dengan memberikan dukungan emosional, membantu menyediakan makanan bergizi, mendampingi pemeriksaan kesehatan, serta menciptakan lingkungan keluarga yang sehat. Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan meningkatkan kepedulian dan tidak memberikan stigma kepada keluarga yang menghadapi masalah gizi.
Dengan demikian, memberdayakan perempuan bukan berarti membebankan seluruh tanggung jawab kepada perempuan. Justru, perempuan perlu diperkuat pengetahuan, kesehatan, kesempatan, dan dukungannya agar mampu mengambil keputusan yang baik bagi dirinya dan keluarganya.
Oleh karena itu “Mari kita ubah cara pandang kita. Mencegah stunting bukan hanya tentang memperbaiki tinggi badan anak, tetapi tentang mempersiapkan generasi yang sehat, kuat, dan memiliki kesempatan untuk tumbuh secara optimal. Dan untuk mewujudkannya, mari kita mulai dengan menghargai, menjaga, dan memberdayakan perempuan—karena ketika perempuan sehat dan berdaya, keluarga dan generasi berikutnya memiliki fondasi yang lebih kuat.”
“Cegah stunting sejak dini, mulai dari perempuan, mulai dari keluarga, dan mulai dari sekarang. Karena setiap anak berhak tumbuh sehat, setiap ibu berhak mendapatkan dukungan, dan setiap generasi berhak memiliki masa depan yang lebih baik.”
Teks/Foto: Eka Fitrian Nova Lisna
Editor: Sarono P Sasmito






