#Dies Natalis KOHATI Ke-59 Khidmat
Swarnanews. Co. Id-Palembang,( 29/9/ 2025 )–Usia ke-59 merupakan usia puncak kematangan yang layak diapresiasi oleh KOHATI (Korp HMI-Wati) siap mewujudkan kader kader perempuan berdedikasi tinggi memajukan negeri ini.
Langkah nyata ini dibahas dalam dialog seminar, peringatan Dies Natalis KOHATI ke-59 diusung langsung oleh BADKO HMI Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) bersama KOHATI HMI Cabang Palembang mengusung tema “Refleksi Perjalanan KOHATI–FORHATI: Dari Kaderisasi ke Kontribusi Nyata.”
Selain menjadi wadah refleksi perjalanan panjang KOHATI, momen ini juga sekaligus merumuskan kontribusi nyata perempuan muslimah dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Bertempat di Rumah Dinas Walikota Palembang, acara diikuti oleh kader KOHATI–HMI se-Sumbagsel, alumni HMI, tokoh masyarakat, serta perwakilan organisasi Cipayung Plus dan komunitas.
Dua tokoh nasional Cut Emma Mutia Ratna, S.H., M.H merupakan Presidium FORHATI Nasional, yang mengupas tentang ‘Peran dan kontribusi alumni KOHATI (FORHATI) dalam penguatan peran perempuan di ruang publik” , mengungkapkan. Peran perempuan itu sudah sangat nyata hakikatnya.
Namun selama ini lebih dominan di tanah internal keluarga. Memang peran utama ini menjadi fondasi kekuatan bangsa. Kendati begitu. Ranah publik juga tetap menjadi PR bagi perempuan memberikan kontribusi lebih pada masyarakat luas.
Tidak saja di satu sektor glamor menjadi sorotan seperti politik. Namun juga sektor penting lain seperti pengusaha, pendidikan, juga bidang lain kini mendesak dibutuhkan seperti pangan.
Besarnya pertumbuhan angka perempuan harus diimbangi juga dengan besarnya kontribusi perempuan. Agar bisa menarik potensi potensi yang baaik perempuan untuk memajukan banyaak sektor.
“Yah.jelas, menurut saya. Jika. Kohati jelas memiliki pengkaderan sangat baik. Ini bisa menyebar di semua sektor. Maka akan membawa peran penting menarik semua potensi perempuan pada umumnya memiliki peran lebih di negeri ini. Jadi tidak saja kuat internal keluarga dan diri, tapi juga kuat berkontribusi bagi negeri, ” ungkap Cut Ema.
Hal ini pun disambut lantang oleh pembicara lain Andi Maraida, S.P., M.M merupakan Ketua Umum KOHATI PB HMI Periode 2003–2006, dengan materi “Refleksi perjalanan KOHATI: kiprah masa lalu, tantangan masa kini, dan proyeksi masa depan.”
Menurut Andi, KOHATI hakikatnya tidak pernah diragukan militansi nya. Meski banyak juga kelemahan yang dimilikinya saat menghadapi banyak tantangan di level praktik. Baik di level domestik sebagai peran ibu, peran istri maupun peran tokoh di masyarakat.
Meski begitu, KOHATI lebih banyak memiliki keunggulan jika dirange secara umum dibandingkan perempuan pada umumnya. Karena pola pembelajaran selama di KOHATI bernaung di bawah HMI memang tidak main-main.
Artinya apa? Keseimbangan peran ganda FORHATI melaksanakan tanggungjawabnya sebagai insan cipta, pengabdi bernafaskan Islam membina masyarakat Islam sangat dibutuhkan saat ini.
Dimana mampu menginternalisasi nilai-nilai ke-Islaman dalam semua sektor. “Percuma jika pintar saja namun tidak faham dengan nilai ke-Islaman. Sehingga bisa dan tidak bisa mengendalikan diri. Makanya di kurikulum pengkaderan semua diajarkan, dari retorika, ke-Islaman, keindonesiaan, opini, juga cara debat secara benar. Semua ilmu ini harus dipraktekkan saat terjun di masyarakat. Dengan landasan nilai Islam. Bukan yang lain, “bebernya.
Inilah pentingkan menekankan peran dan fungsi kohati dan FORHATI dalam skala luas di masyarakat.
Selain dialog seminar. Di sesi akhir. Sebagai simbol syukur dan penghormatan atas perjalanan panjang organisasi, kegiatan ini turut dirangkaikan dengan prosesi pemotongan tumpeng Dies Natalis KOHATI ke-59.
Sebeluknya dalam sambutannya, Meta Firdayanti selaku Ketua Umum KOHATI BADKO HMI Sumbagsel menegaskan bahwa usia 59 tahun adalah momentum penting untuk memperkuat komitmen dan arah perjuangan.
“Dies Natalis ini bukan hanya sekadar perayaan usia, melainkan refleksi atas pengabdian panjang KOHATI. Kami ingin memastikan kaderisasi berjalan berkesinambungan, sehingga kontribusi perempuan muslimah semakin nyata dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Beliau juga menambahkan pesan mendalam mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan:
“Jika satu laki-laki dididik maka yang terdidik hanyalah satu laki-laki. Namun jika satu perempuan dididik, maka sesungguhnya kita sedang mendidik generasi demi generasi. Inilah esensi perjuangan KOHATI: mencetak muslimah berdaya yang mampu melahirkan peradaban.”
Sementara itu, Ketua Umum BADKO HMI Sumbagsel yang diwakili oleh Sekretaris Umum BADKO HMI Sumbagsel menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini serta menekankan pentingnya memahami perjalanan KOHATI–FORHATI.
“KOHATI–FORHATI bukan hanya sejarah organisasi perempuan di tubuh HMI, melainkan juga cermin perjuangan perempuan muslimah dalam lintasan bangsa. Pemahaman atas perjalanan ini penting agar setiap kader mampu mengambil pelajaran dari masa lalu, merespon tantangan masa kini, dan merumuskan strategi masa depan.”
Turut hadir pula Presidium Periodik FORHATI Wilayah Sumsel, Dewi Kartika Sari, S.Pd., M.Pd yang menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya agenda ini sebagai ruang sinergi lintas generasi.
“KOHATI adalah rumah kaderisasi, sementara FORHATI adalah rumah pengabdian alumni. Keduanya harus saling terhubung. Kolaborasi lokal di Sumatera Selatan ini penting, karena di sinilah kader muda ditempa dan alumni berkontribusi nyata bagi masyarakat. Momentum Dies Natalis ini harus memperkuat simpul perjuangan KOHATI–FORHATI di tingkat wilayah.”
Sementara itu, Presidium FORHATI Nasional dalam sambutannya menegaskan bahwa kiprah dan kontribusi alumni KOHATI tidak hanya hadir di ruang-ruang intelektual, tetapi juga di ruang publik dan kebijakan strategis bangsa.
“FORHATI adalah bukti nyata bahwa kaderisasi KOHATI berhasil melahirkan perempuan muslimah yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berperan dalam membangun bangsa. Dari dunia pendidikan, sosial, politik, hingga profesi strategis lainnya, alumni KOHATI selalu membawa semangat keislaman, keindonesiaan, dan keperempuanan. Kolaborasi KOHATI–FORHATI adalah kunci untuk menjawab tantangan Indonesia 2045.”
Selain itu, turut hadir memberikan dukungan Rebo Iskandar Pohan, S.Pd mewakili Pengurus Majelis Nasional KAHMI. Kehadirannya menegaskan eratnya sinergi antara KAHMI, FORHATI, dan KOHATI sebagai satu kesatuan gerakan dalam membangun bangsa. Tidak saja mutlak bertumpu pada teori teori praktis, namun juga diharapkan mampu menyelesaikan dalam praktik di lapangan.
Seperti menyuburkan swastanisasi melalui enterpreneur-entetpteneur muda di berbagai bidang. Mengokohkan akar perekonomian guna stabilisasi kebutuhan nasional yang kian mendesak.
‘Jika ekonomi kuat, saya yakin semua loding sektor akan kuat. Makanya kita butuh anak muda mau terjun di dunia wirausaha. Sudah banyak kader HMI dan alumni tumbuh di bidang politik. Tinggal melengkapi sektor swasta pengusaha, sehingga terjadi keseimbangan di semua segmen, ‘benernya berapi-api.
“KAHMI senantiasa mendukung langkah KOHATI dan FORHATI. Karena melalui kaderisasi yang berkesinambungan, lahir generasi muslimah yang siap berkontribusi dalam pembangunan nasional. Inilah bukti nyata bahwa HMI dan seluruh badan otonomnya selalu relevan dalam perjalanan bangsa, “jelasnya.
Melalui seminar nasional ini, KOHATI BADKO HMI Sumbagsel berharap lahir gagasan-gagasan baru, terjalin sinergi yang lebih kokoh antara KOHATI, FORHATI, dan KAHMI, serta terwujud peran perempuan muslimah yang semakin strategis dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045. (*/ist)


