(Intisari Pengajian Rutin Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ogan Ilir oleh Muhammad Halim Munandar, MPd Ahad, 23 Agustus 2026)
Ukuran yang Keliru
Dari manakah ukuran ini berasal? Apakah dari Al-Qur’an? Apakah dari sunnah Nabi? Apakah dari ajaran Islam? Jawabannya: bukan. Ukuran-ukuran itu lahir dari kebiasaan duniawi, bukan dari wahyu Ilahi. Islam datang justru untuk meruntuhkan hierarki keliru ini dan menetapkan ukuran yang sesungguhnya.
Barometer Sejati Kemuliaan Manusia
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat Ayat 13:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”
Perhatikanlah: Allah tidak mengatakan yang paling mulia adalah yang berpangkat tinggi, yang berseragam, atau yang bekerja di kantor tertentu. Tetapi yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Rasulullah SAW juga menegaskan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh dan harta bendamu, tetapi Dia melihat kepada hatimu dan amal perbuatannya.”
Inilah pandangan Islam tentang manusia. Bukan dari penampilan luarnya. Bukan dari seragam yang dikenakan. Bukan dari jabatan yang disandang. Bukan dari tempat ia bekerja. Melainkan dari apa yang ada di dalam hati dan apa yang ia amalkan dalam kehidupan.
Maka terbentuklah tiga barometer sejati untuk membentuk manusia menjadi manusia yang sesungguhnya:
Keimanan yang Benar (As-Shidqu fil Iman)
Iman bukan sekadar pengakuan di lisan. Iman adalah keyakinan yang tertancap kuat dalam hati, yang kemudian memancar dalam sikap dan perilaku. Rukun iman — percaya kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan Hari Kiamat — bukan sekadar hafalan, melainkan fondasi yang menggerakkan seluruh kehidupan. Apapun profesi dan pekerjaan seseorang, jika berlandaskan iman yang benar, maka ia sudah mulai “menjadi orang” yang sejati.
Akhlak yang Mulia (Al-Akhlaqul Karimah)
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Inilah tujuan utama diutusnya beliau. Seorang yang berseragam lengkap dengan bintang di pundaknya, namun berbicara kasar kepada stafnya, merendahkan orang miskin, dan berlaku sombong di hadapan rakyat kecil — ia belum menjadi manusia yang sesungguhnya. Sebaliknya, seorang pedagang sederhana yang santun tutur katanya, jujur dalam berdagang, dan memuliakan sesama — dialah manusia yang sesungguhnya.
Mengamalkan Ajaran Islam dalam Kehidupan Nyata
Iman dan akhlak bukan sekadar teori. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Shalat yang khusyuk, zakat yang ditunaikan, amanah yang dijaga, janji yang ditepati, pekerjaan yang dilakukan dengan jujur — inilah bukti nyata bahwa seseorang telah benar-benar menjadi manusia yang beriman dan berakhlak.
Fenomena yang Memilukan: “Sudah Menjadi Orang” Justru Menjadi Bukan Manusia
Satu hal yang sangat menyedihkan: di negeri ini, banyak orang yang dianggap “sudah menjadi orang” oleh masyarakat, justru mengamalkan sifat-sifat yang lebih rendah dari hewan. Tangan mereka terulur untuk menerima suap, mengkhianati amanah rakyat, membangun jaringan korupsi yang merugikan miliaran bahkan triliunan rupiah uang rakyat.
Seragam tidak bisa menyelamatkan seseorang dari kehinaan di hadapan Allah. Jabatan tidak bisa mengangkat derajat seseorang di sisi Allah jika ia meninggalkan iman dan akhlak. Bahkan sebaliknya — semakin tinggi jabatan dan semakin luas kekuasaan seseorang, semakin berat pula pertanggungjawaban yang akan ia hadapi di hari kiamat kelak.
Rasulullah SAW bersabda (HR. Bukhari-Muslim):
“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk memimpin suatu kaum, lalu ia tidak menjaganya dengan penuh ketulusan, melainkan ia tidak akan mencium bau surga.”
Memuliakan Mereka yang Dirusakkan Ukuran Duniawi
Marilah kita angkat derajat orang-orang yang selama ini direndahkan oleh ukuran-ukuran duniawi yang keliru. Seorang tukang bangunan yang berangkat pagi-pagi dengan badan penuh peluh, tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya, pulang ke rumah membawa rezeki halal untuk menyuapi istri dan anak-anaknya — ia lebih layak disebut “sudah menjadi orang” dibandingkan seorang pejabat yang mengkhianati amanah rakyat.
Rasulullah SAW bersabda (HR. Bukhari):
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan yang dihasilkan dari pekerjaan tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud a.s. — beliau seorang Nabi dan seorang Raja — memakan makanan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri.”
Nabi Daud AS bekerja dengan tangannya. Nabi Muhammad SAW berdagang. Para sahabat bertani, berdagang, dan berkarya. Mereka adalah orang-orang paling mulia di muka bumi — bukan karena seragam dan jabatan, melainkan karena iman, akhlak, dan amal mereka.
Maka kepada kita yang bekerja sebagai buruh, petani, tukang, nelayan, pedagang kecil: jangan sekali-kali merasa rendah diri! Selama kita menjaga keimanan, meluruskan akhlak, dan mencari rezeki dengan cara yang halal, maka di mata Allah kita adalah manusia yang mulia.
Merdeka dari Kasta, Kembali ke Ukuran Allah
Buya Hamka menulis dalam Tasawuf Modern:
“Orang yang kuat jiwanya, kokoh imannya, lurus pikirannya — ia tidak akan pernah direndahkan oleh kemiskinan, dan tidak akan pernah dimuliakan semata-mata oleh kekayaan.”
Dalam Tafsir Al-Azhar, beliau juga menegaskan:
“Islam telah meruntuhkan tembok kasta dan hierarki sosial yang pernah membelenggu peradaban manusia. Tidak ada ‘kelas atas’ dan ‘kelas bawah’ dalam Islam. Yang ada hanyalah manusia yang bertakwa dan manusia yang lalai.”
Marilah kita merdeka dari dikotomi pekerjaan dan pandangan keliru tentang “sudah menjadi orang”. Barometer sejati seseorang bukanlah seragam, bukan jabatan, bukan tempat kerja, dan bukan penampilan. Barometer yang sesungguhnya adalah: Iman yang benar, Akhlak yang mulia, dan Amal ihsan yang nyata. Hanya dengan ketiga hal inilah seseorang dapat disebut “sudah menjadi manusia” dalam pandangan Islam. Semoga kita semua termasuk di dalamnya. (Editor: Sarono P Sasmito)
Muhammad Halim Munandar, M.Pd. (Sekbid Hubungan Antar Lembaga Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Ogan Ilir dan Dosen Universitas AlQuran Al-Ittifaqiyah Indralaya)


