Oleh: Sudarta Salman
SWARNANEWS.CO.ID, TANJUNG RAJA BARAT– Kajian rutin malam ini di Langgar Darul Ma’arif Kelurahan Tanjung Raja Barat, disampaikan oleh Ustadz M. Nuh, membawa pesan mendalam tentang hakikat cinta kepada Allah dan bagaimana bentuk pengabdian yang sesungguhnya. Berangkat dari firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 31, kajian ini mengajak kita merenungkan: apakah sekadar mengaku cinta Allah sudah cukup?
Ayat tersebut berbunyi: “Katakanlah (Muhammad): Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Inilah kunci utama ajaran Islam: cinta kepada Allah bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan ketaatan yang dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah SAW. Dan mengikuti beliau pun tidak boleh setengah-setengah atau dipilih-pilih. Harus utuh dalam tiga aspek sekaligus: perkataan (qauliyah), perbuatan (fi’liyah), dan akhlaknya.
Pertama, qauliyah — mengikuti segala sabda, perintah, dan nasihat beliau. Kata-kata beliau adalah sumber petunjuk kedua setelah Al-Qur’an.
Kedua, fi’liyah — meneladani segala tindakan beliau, mulai dari cara beribadah hingga cara hidup sehari-hari. Beliau tidak hanya mengajarkan teori, tetapi langsung mencontohkannya.
Ketiga, akhlak — meneladani sifat-sifat mulia beliau: jujur, amanah, pemaaf, rendah hati, dan penyayang. Allah sendiri bersaksi: “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” Ibadah yang rajin tanpa diiringi akhlak yang mulia berarti belum sempurna mengikuti jejak Nabi.
Namun, di tengah upaya meneladani beliau, ada dua hal yang sering menjadi jerat bagi manusia: harta dan ilmu. Keduanya, jika tidak disertai kesadaran, justru menjadi pemicu kesombongan — sifat yang sangat dibenci Allah.
Kesombongan karena harta terlihat ketika seseorang merasa kekayaan itu murni hasil kepintaran dan usahanya sendiri, bukan pemberian Allah. Ia lupa diri, memamerkan kemewahan, memandang rendah orang miskin, hingga menjadi kikir. Seperti halnya Qarun yang berkata: “Sesungguhnya aku diberi harta ini hanya karena ilmu yang ada padaku.” Akhirnya harta itu justru menjadi bencana baginya.
Lebih berbahaya lagi adalah kesombongan karena ilmu — sifat yang paling halus dan jarang disadari. Seringkali semakin berilmu, seseorang justru merasa paling benar, tidak mau menerima nasihat, ingin selalu dipuji, dan menganggap orang lain lebih rendah daripadanya. Padahal ilmu itu hanyalah titipan Allah. Semakin berilmu, seharusnya semakin rendah hati, bukan semakin angkuh. Rasulullah SAW memperingatkan: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi kesombongan.”
Berbeda dengan sifat Rasulullah SAW yang menjadi teladan bagi kita semua: bekiau bersifat sangat menyenangkan. Siapa saja yang berjumpa dengannya merasa nyaman dan dicintai. Beliau selalu tersenyum — tersenyum di hadapan saudaranya pun beliau sebut sebagai sedekah. Beliau lemah lembut, tidak kasar, tidak memotong pembicaraan, dan menghargai setiap orang tanpa membeda-bedakan status sosial. Para sahabat pun merasa beliau bagaikan ayah mereka sendiri yang penuh kasih sayang. Allah berfirman: “Sekiranya engkau kasar dan berhati keras, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu.” Kelembutan beliau bukan kelemahan, melainkan kekuatan terbesar yang menarik hati manusia kepada jalan Allah.
Maka, pesan utama yang dapat kita petik dari kajian ini sungguh sederhana namun sangat mendalam: semakin kita mencintai Allah, semakin kita meneladani Rasulullah — bukan hanya dalam sholat dan ibadah, tetapi juga dalam perkataan, perbuatan, dan terutama akhlak. Ketika harta dan ilmu bertambah, biarlah itu membuat kita semakin bersyukur dan semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Dan jadilah pribadi yang menyenangkan bagi siapa saja — sebagaimana Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang benar-benar mencintai Allah, mengikuti Rasul-Nya dengan seutuhnya, dan pada hari kelak mendapat cinta serta ampunan-Nya. (Editor: Sarono P Sasmito)
Note :
Tulisan ini merupakan rangkuman dan opini atas ceramah yang disampaikan oleh Ustad M Nuh di Langgar Darul Ma’arif, Kelurahan Tanjung Raja Barat, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, pada 5 September 2026.



