BUKAN HANYA FORMALITAS: Para peserta dialog lintas agama foto bersama dan meneriakkan yel-yel bina kerukunan antar umat beragama di Kabupaten OI. Teriakan itu ditekadkan bukan hanya formalitas tetapi akan selalu diwujudkan setiap saat.
SWARNANES.CO.ID, INDRALAYA OGAN ILIR –Meski minim anggaran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ogan Ilir para pengurus tidak mau pasif dan berpangku tangan. Untuk itu berbagai kegiatan terus digelar salah satunya yang selalu teragenda adalah Dialog Lintas Agama membahas kerukunan beragama yang digelar di Ruang Rapat Utama Bupati Ogan Ilir di Perkantoran Terpadu Tanjung Senai, Rabu (30/9/2026).
KOMITMEN: Tampak para peserta yang hadir menyimak materi dan sesi demi sesi dengan konsekuen untuk turut memelihara kerukunan antar umat beragama.
Hadir pada kesempatan tersebut Bupati OI yang diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Abi Bakrin Sidiq, Staf Khusus Bidang Kesbangpol Dr. Sobli, Kakesbangpol Dra. Kesi Hardiana, MM, Kabag Kesra Hendrawijaya, SE, MSi, Kakankemenag Wahidin, S.Sos, Msi, Ketua FKUB M Ridho SAg, para pimpinan ormas dalam naungan Islam, pimpinan agama Kristen, Protestan, Hindu dan Budha serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Acara pembukaan Dialog Lintas Agama yang dipandu MC Drs Herman Syarkowi, MM, dibuka dengan lapas basmalah oleh peserta. Kemudian menyanyikan Lagu Indonesia Raya serta mendengarkan Lagu Kerukunan Beragama. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin KH Karim Umar dari Ponpes Raudhatul Ulum Sakatiga Indralaya.
CENDERAMATA: Abi Bakrin Sidiq mewakili Bupati OI menerima cenderamata dari Ketua FKUB H Muhammad Ridho, SAg. Cermin sinergi antara pemerintah dan FKUB.
Kemudian dilanjutkan laporan dan sambutan Ketua FKUB H Muhammad Ridho SAg. Dai yang energik ini mengemukakan, dialog ini dimaksudkan untuk terus mengokohkan tali silaturahmi antar kita sesama umat beragama.
Di samping itu kita juga harus memberikan pemahaman kepada umat di akar rumput sebab biasanya konflik terjadi di lapis bawah. Kita seyogyanya bukan hanya hadir saat ada persoalan tapi harus bisa mencermati tanda-tanda zaman sebelum konflik itu terjadi. Di samping itu pertemuan seperti ini akan memantapkan nilai-nilai kebersamaan kita.
“Para pengurus FKUB selama ini selalu memberikan sumbangsih bagi kerukunan umat beragama di NKRI. Di samping itu dialog para tokoh lintas agama bisa menjaga kesejukan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Usai itu Abi Bakrin mewakili Bupati OI mengemukakan, Ogan Ilir ini rumah kita bersama. Mari kita jaga kerukunan umat bergama sehingga terus zero konflik. Mudahan pertemuan tidak berhenti hanya sebatas kegiatan tapi dilaksanakan di tengah masyarakat, ujarnya.
Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan piagam dari Ketua FKUB Muhammad Ridho kepada Abi Bakrin Sidiq. Setelah itu jeda sejenak peserta menikmati kudapan yang disediakan.
SANGAT BERKEPENTINGAN MENJAGA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA: Dra. Kesi Hardiana, MM sebagai Kepala Kesbangpol sangat merasa berkepentingan untuk menjaga agar di Kabupaten tetap zero konflik.
Lalu dilanjutkan dengan materi dari pembicara pertama Kakesbangpol Dra. Kesi Hardiana, MM didampingi Moderator Ustadz Dr Zaimuddin MSi. Kesi yang keturunan Lubuk Keliat dan Sukaraja Baru ini membahas materi Peran Kesbangpol dalam Memelihara Kerukunan Beragama.
Langkah yang terus dilakukan yakni berupaya meminilasi konflik. “Alhamdulillah hingga saat tidak terjadi konflik yang besar. Saat ada masalah betapapun kecilnya terus kita upayakan untuk mengatasinya,” ujar wanita suka canda ini.
Di samping mengutarakan materi karena alokasi waktu terbatas untuk membahas semua hal. Kesi mengemukakan siap terima bapak ibu berkoordinasi dengan bapak ibu. Peran pemkab memang memfasilitasi anggaran tapi jujur nilainya tidak besar pernah tahun sebelumnya Rp60 juta, kemudian tahun ini Rp50 juta dan tahun depan tetap Rp50juta.
BERIKAN TANGGAPAN: Sarono P Sasmito yang mewakili unsur Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memberikan tanggapan pada dialog lintas agama didampingi Medi Irawan ICMI Orda OI dan M Amin dari FKUB Kecamatan.
Usai paparan dilanjutkan dialog. Muncul sebagai penanggap pertama Sarono P Sasmito yang mewakili dari unsur wartawan atau jurnalis. Mulai adanya kecenderungan anak-anak muda saat ini yang kurang menghiraukan nilai-nilai agama. Kehidupan mereka kadang terlalu longgar dan seperti kehilangan arah. Untuk itu menjadi PR bagi kita semua untuk terus memperhatikan dan gigih membina kaum muda yang banyak terjerumus ke perbuatan destruktif. Mulai dari pendangkalan pemahaman agama, fenomena atheis dan lainnya. Untuk itu perlu sinergi semua pihak agar generasi penerus itu terselamatkan.
Kemudian penanya kedua Gusti M Ali mantan Ketua Masjid An-Nur di Tanjung Senai yang menyoroti kebiasaan anak muda yang meresahkan masyarakat misalnya kebut-kebutan dan suara knalpot yang bising menimbulkan keresahan.
Baik dari kasus Mekarsari maupun lainnya saya sebagai wartawan mengetahui kasus itu sebenarnya dimulai kesalahpahaman. Untuk itu harus kita bangun komunikasi untuk saling memahami. Kita perlu membuat kesepakatan berupa nota kesepahaman kedua belah pihak ada baik tentang adanya kapel, gereja dan rumah ibadah umat kristen di tengah pemukiman yang banyak umat Islamnya.
Kemudian dilanjutkan materi dari Kakankemenag OI Wahidin yang membahas peran Kemenag dalam memelihara kerukunan umat beragama. Menurut dia kita harus bersyukur para pendahulu kita menanamkan falsafah Bhineka Tunggal Ika meski berbeda-beda tetap satu jua. Jadi perbedaan dan keragaman justru memperkuat persatuan dan kesatuan kita di bawah payung NKRI.
Kemudian dilanjutkan materi Ketua FKUB Muhammad Ridho yang membahas fungsi dan peran FKUB secara luas. Kita juga membina Desa Sadar Kerukunan di Mekarsari Rantau Alai yang terbukti bisa membangun kerukunan antarumat beragama dengan sebaik-baiknya. Ridho yang didampingi Moderator Ida Kartika kemudian mepersilahkan peserta untuk berdialog. Saat itu Ustad Husnul Anam yang staf khusus bupati berjanji akan memperjuangkan penambahan anggaran dengan memohon bantuan Bupati OI.
“Melihat fungsi peran FKUB yang efektif mewujudkan kerukunan beragama sehingga zero konflik di OI saya pikir Pak Bupati dengan senang hati akan membantu pendanaan FKUB,” ujarnya optimis.
“Kita harus sedia payung sebelum hujan. Jangan karena merasa zero konflik tahu tahu pecah konflik,” ujarnya mengingatkan.
Di sisi lain Syafei dari Majelis Silaturahmi Dakwah Islam ( MSDI) mengutarakan kasus keresahan warga Sejangko di Rantau Panjang. Pindah agama karena bujukan pihak lain. Dia mengharapkan jangan menyebarkan agama kepada warga yang sudah punya agama sehingga terwujud kerukunan antar umat beragama.
Di sisi lain Kusnadi dari Desa Mekarsari mengemukakan kondisi di desanya. Menurutnya di desa Mekarsari terdiri atas enam dusun tapi terdapat 3 masjid 3 mushola. Ada umat katolik, kristen Pantekosta, LDII, NU, Muhammadiyah tetapi semuanya bisa bekerja sama saling memelihara keamanan. Kondisi seperti itu diharapkan bisa terwujud seluruh wilayah Kabupaten OI, Sumsel dan Indonesia pada umumnya.
Acara berlangsung lancar dan tertib. Usai semua sesi dilakukan penutupan oleh Ketua FKUB Muhammad Ridho. Kemudian ramah tamah dan foto bersama.
Foto: DOK FKUB
Teks/Editor: Sarono P Sasmito, SPd






