Home Pendidikan Spektakuler, 199 Pendidik Dari 10 Provinsi Ikuti  Webinar ILTEC Bahas Transformasi Pembelajaran...

Spektakuler, 199 Pendidik Dari 10 Provinsi Ikuti  Webinar ILTEC Bahas Transformasi Pembelajaran Berbasis AI

68
0
  • Meski Sebuah Keniscayaan Yang Tidak Bisa Dihindari Para Guru dan Murid Didorong Bijak Mempergunakan AI Agar Tidak Tercerabut dari Konsep Pedagogi

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG, Tak terbantahkan dan spektakuler Indonesian Learning Training and Education Centre (ILTEC) sukses menyelenggarakan Webinar Pendidikan Eksklusif bertajuk “Transformasi KBM: Integrasi AI dan Pedagogi Modern di Kelas” pada Minggu malam, 25 Oktober 2026, pukul 19.30–21.00 WIB melalui Zoom Meeting. Buktinya 199 peserta dari 10 provinsi di Indonesia  yang terdiri atas guru, dosen, hingga pemimpin redaksi  media massa ikut nimbrung  berbagi pengetahuan, refleksi, dan diskusi bagi para  peserta baik  pendidik dan unsur lain dalam menghadapi transformasi pendidikan di era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).

Peserta berasal dari berbagai daerah, meliputi Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, hingga Ambon, Provinsi Maluku. Keikutsertaan para pendidik dan stakeholder lain  dari berbagai wilayah tersebut memperlihatkan luasnya perhatian terhadap pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan.

Webinar ini juga diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD/TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, hingga perguruan tinggi. Keberagaman latar belakang peserta memperkaya diskusi mengenai tantangan dan peluang penerapan AI dalam konteks pembelajaran yang berbeda-beda.

Melalui kegiatan ini, ILTEC ingin menegaskan bahwa transformasi pembelajaran bukan sekadar tentang penggunaan teknologi terbaru, melainkan tentang bagaimana teknologi dimanfaatkan secara tepat untuk memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan kompetensi pendidik, dan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.

Diawali Survei Kesiapan Guru dan Dosen Mengintegrasikan AI dalam Pembelajaran

Sebelum memasuki kegiatan inti, webinar diawali dengan pengisian kuesioner “Survei Kesiapan Guru dan Dosen Mengintegrasikan AI dalam Pembelajaran” yang dipandu oleh Ms. Pausma, S.Pd.

Survei ini dirancang untuk menggali pengalaman, kesiapan, serta pandangan guru dan dosen mengenai pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam proses pembelajaran. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan, peserta diajak merefleksikan posisi dan kesiapan mereka dalam menghadapi perubahan praktik pendidikan di era digital.

Pelaksanaan survei pada awal kegiatan menjadi langkah penting untuk menghubungkan diskusi webinar dengan kondisi nyata yang dialami para pendidik. Integrasi AI tidak hanya memerlukan pengetahuan tentang berbagai aplikasi, tetapi juga pemahaman mengenai manfaat, keterbatasan, risiko, etika, dan kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran.

Data yang dihimpun melalui survei tersebut diharapkan dapat menjadi bahan untuk memahami kebutuhan pengembangan kompetensi pendidik. Apabila diolah dan dianalisis lebih lanjut secara sistematis, data tersebut juga berpotensi memberikan kontribusi bagi kajian ilmiah mengenai kesiapan guru dan dosen dalam mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga membuka peluang untuk mengembangkan program pelatihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pendidik.

Apit Fathurohman: ILTEC Hadir dari Kepedulian terhadap Pengembangan Kompetensi Guru

Kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan dan sambutan dari Founder sekaligus Owner Indonesian Learning Training and Education Centre (ILTEC), Apit Fathurohman, S.Pd., M.Si., Ph.D., yang akrab disapa Kang Apit.

Dalam sambutannya, Kang Apit menyampaikan rasa syukur serta terima kasih kepada seluruh peserta yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti webinar. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada narasumber, moderator, dan jajaran pengelola ILTEC yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Kang Apit menilai partisipasi 199 peserta dari 10 provinsi merupakan semangat positif bagi ILTEC untuk terus memperluas ruang belajar, berbagi pengalaman, dan membangun kolaborasi di antara para pendidik Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Apit juga berbagi cerita mengenai latar belakang berdirinya ILTEC pada tahun 2013. Gagasan pendirian lembaga ini berawal dari keprihatinannya ketika mengajar dalam program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Rayon 04 Universitas Sriwijaya mulai tahun 2008.

Berdasarkan pengalamannya saat berinteraksi dengan para guru, Kang Apit melihat adanya kebutuhan terhadap kesempatan pengembangan profesional yang lebih berkelanjutan. Banyak guru yang ditemuinya mengungkapkan bahwa kesempatan pelatihan yang mereka peroleh selama menjadi guru masih sangat terbatas, bahkan hanya sekitar dua kali, yaitu ketika prajabatan dan PLPG.

Pengalaman tersebut mendorong Kang Apit untuk memikirkan bagaimana para guru dapat terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang semakin cepat.

Baginya, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal maupun pelatihan yang sesekali dilaksanakan. Guru membutuhkan kesempatan belajar yang berkesinambungan agar dapat terus memperbarui pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan menemukan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dari semangat itulah ILTEC didirikan pada tahun 2013 sebagai wadah pengembangan kompetensi dan peningkatan kapasitas pendidik.

Sejak awal perkembangannya, ILTEC menyelenggarakan berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, antara lain pelatihan penggunaan Kahoot, pelatihan penulisan proposal penelitian, seminar Penelitian Tindakan Kelas (PTK), serta berbagai kegiatan pengembangan profesional lainnya.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pendidikan, program-program ILTEC terus diarahkan agar relevan dengan tantangan yang dihadapi guru dan lembaga pendidikan.

Pada tahun 2025, ILTEC dipercaya oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Kepercayaan ini menjadi bagian penting dalam perjalanan ILTEC untuk berkontribusi pada pengembangan kompetensi pendidik di bidang koding dan kecerdasan artifisial.

Penyelenggaraan webinar bertema integrasi AI dan pedagogi modern menjadi salah satu bentuk keberlanjutan komitmen tersebut. ILTEC berupaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya memperkenalkan perkembangan teknologi, tetapi juga membantu pendidik memahami cara memanfaatkannya secara tepat, kritis, dan bertanggung jawab.

Kang Apit berharap kegiatan semacam ini dapat memperluas wawasan guru dan dosen, mendorong lahirnya inovasi pembelajaran, serta memperkuat budaya belajar sepanjang hayat di kalangan pendidik.

Didukung Moderator dan Jajaran Pengelola ILTEC

Keberhasilan webinar ini juga didukung oleh keterlibatan moderator dan jajaran pengelola ILTEC yang turut hadir dalam kegiatan.

Acara dipandu oleh Ms. Erazando Alfaseira, S.Pd., M.Pd., selaku moderator. Peran moderator menjadi bagian penting dalam menjaga alur kegiatan, menghubungkan sesi pemaparan materi dengan diskusi, serta memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pertanyaan dan pandangan.

Turut hadir Dr. Esti Susiloningsih, S.Pd., M.Si., selaku Kepala Divisi Diklat ILTEC. Kehadiran beliau mendukung komitmen lembaga dalam mengembangkan program pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan guru, dosen, dan tenaga pendidikan.

Kegiatan ini juga dihadiri Ms. Fathiyyah Annisa, A.Md.Ak., selaku Kepala Divisi Keuangan dan Administrasi ILTEC, serta Muhammad Fatih, S.Ds., selaku Kepala Divisi Kreatif dan Promosi ILTEC.

Keterlibatan jajaran pengelola tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan. Pengembangan program, pengelolaan administrasi, dukungan keuangan, serta kreativitas dan promosi merupakan unsur yang saling melengkapi dalam membangun layanan pendidikan yang profesional.

Melalui kerja sama tersebut, ILTEC terus berupaya memperluas jangkauan program, membangun jejaring dengan komunitas pendidik, dan menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan pendidikan Indonesia.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.: AI Membantu, Guru Tetap Membimbing

Kegiatan inti webinar menghadirkan Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang akrab disapa Omjay, sebagai narasumber. Ia merupakan guru Informatika di SMP Labschool Jakarta dan dosen Universitas Terbuka.

Dalam pemaparannya, Omjay mengajak peserta memulai refleksi melalui pertanyaan mendasar: “Apakah AI akan menggantikan guru?”

Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membahas perubahan peran guru, peluang penggunaan kecerdasan artifisial, serta pentingnya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan.

Pesan utama yang ditekankan Omjay adalah bahwa AI dapat membantu proses pembelajaran, tetapi guru tetap memimpin proses mendidik.

Teknologi dapat membantu menghasilkan informasi, menyusun bahan ajar, memberikan alternatif penjelasan, serta mendukung berbagai aktivitas pembelajaran. Namun, pendidikan bukan sekadar proses menyampaikan informasi. Pendidikan juga berkaitan dengan pembentukan karakter, empati, tanggung jawab, dan kemampuan peserta didik untuk berpikir secara mandiri.

Karena itu, penggunaan AI perlu ditempatkan dalam kerangka pedagogi yang jelas. Teknologi harus membantu guru mencapai tujuan pembelajaran, bukan justru menggeser tujuan tersebut.

Omjay mengajak pendidik untuk bergerak dari pola pembelajaran yang berpusat pada penyampaian informasi menuju pengalaman belajar yang lebih aktif, kontekstual, dan bermakna.

Dalam pendekatan tersebut, guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing. Peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga bertanya, menyelidiki, berdiskusi, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya.

Transformasi ini menuntut guru untuk memilih teknologi berdasarkan kebutuhan belajar, bukan sekadar mengikuti tren. AI perlu dimanfaatkan apabila benar-benar memberikan nilai tambah terhadap proses dan hasil pembelajaran.

Memahami Peluang dan Keterbatasan Kecerdasan Artifisial

Dalam paparannya, Omjay menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi yang dapat membantu sistem komputer menjalankan berbagai tugas, seperti mengolah bahasa, mengenali pola, dan menghasilkan rekomendasi.

AI generatif, misalnya, dapat digunakan untuk membantu membuat teks, rangkuman, soal, gambar, ide proyek, hingga kode program. Bagi guru, kemampuan tersebut membuka peluang untuk memperkaya bahan ajar dan menyediakan variasi aktivitas belajar.

Meskipun demikian, Omjay mengingatkan bahwa keluaran AI tidak selalu benar. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, bias, atau mencantumkan rujukan yang tidak valid.

Oleh sebab itu, guru tidak boleh menerima hasil AI secara langsung tanpa pemeriksaan. Informasi perlu diverifikasi, dibandingkan dengan sumber tepercaya, serta disesuaikan dengan kurikulum dan karakteristik peserta didik.

Pembagian peran yang sehat perlu dibangun dalam pembelajaran: AI membantu menghasilkan alternatif dan gagasan; guru memeriksa, memilih, membimbing, dan mengambil keputusan; sedangkan peserta didik tetap berpikir, mencoba, mencipta, dan bertanggung jawab atas proses belajarnya.

Dengan pembagian peran tersebut, teknologi diharapkan memperluas kemampuan manusia tanpa menghilangkan peran penting guru dalam mendidik.

                                                                                 

Diskusi Interaktif, Antusiasme Peserta Tetap Tinggi hingga Malam Hari Hingga Closing Masih ada Sisa Pertanyaan Menyerbu Layar Digital

Salah satu hal yang menonjol dalam pelaksanaan webinar adalah antusiasme peserta sepanjang kegiatan. Meskipun dilaksanakan pada malam hari, para peserta tetap aktif mengikuti pemaparan dan mengajukan berbagai pertanyaan.

Begitu sesi diskusi dibuka Sarono P Sasmito salah seorang peserta guru Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Albasya di Ogan Ilir yang juga Pemimpin Redaksi Swarnanews dan Permatanews langsung membombardir berbagai tanggapan yang juga memancing diskusi peserta lain.  Kemudian tercatat peserta lain seperti Ibu Ngatinem dari TKN 1 Muara Telang 1, Guru dari SDN Tuguagung  Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OI,  melayangkan pertanyaan dengan kronik permasalahan yang dihadapi masing-masing.

Diskusi memperlihatkan bahwa penerapan AI dalam pendidikan menghadirkan berbagai persoalan yang perlu dipertimbangkan secara matang. Pendidik tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis menggunakan aplikasi, tetapi juga pemahaman mengenai strategi pembelajaran, verifikasi informasi, etika, privasi, akses teknologi, dan kemandirian berpikir peserta didik.

Keberagaman jenjang pendidikan yang diwakili peserta turut memperkaya sudut pandang dalam diskusi. Tantangan penerapan AI di PAUD/TK tentu berbeda dari di SMP, SMA/SMK, maupun perguruan tinggi. Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan konteks institusi masing-masing.

Sesi diskusi menjadi kesempatan bagi peserta untuk menghubungkan materi yang disampaikan narasumber dengan persoalan yang mereka hadapi dalam praktik sehari-hari.

Keaktifan peserta juga menunjukkan pentingnya forum pengembangan profesional yang memberi ruang bagi guru dan dosen untuk bertanya, bertukar pengalaman, dan belajar bersama.

Melalui kegiatan ini, ILTEC berharap para peserta memperoleh bekal untuk mulai mengeksplorasi penggunaan AI secara lebih terarah, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip pedagogi dan tanggung jawab profesional sebagai pendidik.

Sarono P Sasmito selain memberikan puluhan tanggapan juga memberikan wanti-wanti kepada semua peserta agar tetap bersikap bijak menghadapi AI saat ini. AI tetap menjadi fenomena menarik tetapi di sisi lain tetap perlu pada pemberdayaan pada fungsi otak manusia. Sebab otak adalah komponen yang urgen yang diciptakan oleh Allah SWT dan sangat memiliki keunggulan yang tak tertandingi oleh “barang” imitasi. Oleh karena itu generasi kita jangan saampai di perbudak AI justru kita arahkan agar mempergunakan AI secara bijak, cerdas, hati-hati dan menuju meslahat pada kemanusiaan dan bukan sebaliknya jadi potensi destruktif yang membahayakan tatatan kemanusiaan.

Foto: Dok ILTEC

Teks/Editor: Sarono P Sasmito

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here